Tempat Terakhir
Lama sudah kau menemani
Langkah kaki di sepanjang
Perjalanan hidup penuh ceritaKau adalah bagian hidupku
Dan akupun menjadi bagian
Dalam hidupmu yang tak terpisah——
Bila nanti aku kehilangan
Mungkin itu hanya sesaat
Karena ku yakin kita kan bertemu lagiPADI
New Glasses

Success makes so many people hate you. I wish it wasn’t that way. It would be wonderful to enjoy success without seeing envy in the eyes of those around you.
Hakuna Matata: Problem Free Philosophy
It means no worries for the rest of your days It's our problem-free philosophy
Belajar di Kampung Inggris?
Sebagai orang yang ingin fokus mempelajari bahasa inggris, umumnya hal yang paling giat dilakukan adalah mencari informasi mengenai tempat kursus maupun lokasi belajar yang kondusif. Biasanya info tersebut diperoleh melalui mulut lewat mulut (yang biasa saya singkat MLM) atau media online dan social network.
Jika anda termasuk ‘pencari’ informasi tersebut, mungkin saya bisa memberikan sedikit cerita dan solusi bagi anda. Kebetulan ini adalah bulan terakhir saya di sebuah desa bernama Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, tepatnya di ‘Kampung Bahasa’ atau yang biasa dikenal ‘Kampung Inggris’.
Untuk anda yang mau belajar di sini, coba gali informasi dari orang terdekat atau rekan yang pernah ke Kampung Inggris. Biasanya informasinya lebih akurat dibandingkan media online mana pun. Ada beberapa hal yang ingin saya ungkapkan terkait kehidupan di desa ini seobjektif mungkin.
Mungkin sudah anda ketahui dari media atau web page yang lain, tapi sebagai prolog saya merasa hal ini penting untuk disampaikan. Pertama, umumnya berdasarkan durasi atau masa pendidikan, kursusan terdiri dari dua jenis program, yaitu program dua mingguan dan program satu bulan. Mengenai jenis dan jadwal program, kita pilih sendiri sesuai opsi yang diberikan kursusan. Ada juga yang sudah sepaket, biasanya program yang kaitannya dengan grammar, seperti di ELFAST, Kresna, BEC, HEC, dan lain sebagainya. Durasinya beragam, antara 1-6 bulan.
Kedua, seperti cerita yang sudah saya kisahkan sebelumnya, kendaraan utama member kursusan di sini adalah sepeda. Untuk lebih detailnya anda bisa baca postingan saya sebelumnya. Kendaraan lain yang umumnya digunakan adalah ‘odong-odong’, sejenis kereta wisata sewaan yang biasanya ditumpangi kalau member ingin berkunjung ke lokasi wisata di sekitar Pare-Kediri, ongkos sewanya Rp 15.000 per orang.
Ketiga, soal makanan. Mungkin bagi anda yang berasal dari kota besar atau luar Pulau Jawa, makanan di sini termasuk murah, seperti pecel ayam (Rp 5 ribu), sate (Rp 5-10 ribu), pecel pincuk (Rp 4 ribu). Tapi, bagi saya yang pernah menetap di Bogor selama 4 tahun, harga tersebut biasa saja alias ‘gak murah-murah banget’. Kalau soal rasa relatif, banyak juga member yang kurang sreg dengan makanan di sini lantaran rasanya cenderung manis.
Nah, sekarang saya mau menceritakan fakta singkat soal ‘Kampung Inggris’ ini. Tidak bermaksud mengurangi nilai jual desa ini, tapi saya mau menyampaikan opini saya seobjektif mungkin yang saya bisa. Kenapa? Karena saya tidak mau pembaca blog saya berekspektasi secara berlebihan mengenai tempat ini, sehingga bisa mempertimbangkan secara objektif sesuai berbagai referensi yang sudah diperoleh selama pencarian informasi. Apa urusan saya? Tidak ada, hanya ingin memberi sedikit pandangan berdasarkan bincang-bincang yang telah saya lakukan dengan beberapa orang dan informasi lain yang saya dapatkan dari tutor kursus dan ‘native’ di sini. Apa betul…
1. Semua orang di desa ini sudah mahir bercakap dalam bahasa inggris bahkan sampai pedagang kelilingnya?
TIDAK. Banyak isu yang beredar kalau masyarakat asli Kampung Inggris mahir berbahasa inggris, faktanya tidak. Member hanya efektif berbahasa inggris di kelas atau camp (kost-kostan english area).
2. Biaya pendidikan secara umum di desa ini murah?
RELATIF. Kalau biaya kursusnya memang cukup murah, normalnya berkisar antara Rp 35-175 ribu. Namun, ada juga yang lebih dari Rp 1 juta. Pertimbangkan pula untuk biaya kursus yang di luar budget anda, perhitungkan outputnya nanti, sesuai usaha dan dana yag dikeluarkan apa tidak. Karena, jika dilihat secara menyeluruh tidak hanya biaya kursus yang anda keluarkan, tapi juga biaya hidup dan transportasi yang anda keluarkan untuk belajar di desa ini. Di sini biaya hidup relatif murah, mungkin dengan rata-rata biaya hidup Rp 1,5 juta anda sudah bisa mengambil beberapa program, biaya makan dan sewa sepeda, serta jasa laundry dan rekreasi. Tapi, perlu diketahui juga, kadang kata ‘murah’ itu justru membuat anda lebih boros tanpa disadari, alias mendadak punya hobi belanja sana-sini.
3. Desa ini menjadi tempat ‘pelarian’ banyak orang dari masalah yang dihadapi atau sebagai lokasi untuk menata kembali impian dan kehidupan?
YA. Kalau menurut tutor saya (salah satu tutor terbaik di Kampung Inggris), Kampung Inggris is a ‘dream land’. “Segeralah bangun!” katanya. Kenapa? Menurut wawancara yang telah saya lakukan dengan sebagian besar orang yang saya temui di desa ini, mereka ke sini untuk menata kembali kehidupan mereka setelah ‘patah hati’ karena belum berhasil meraih cita-cita, ada juga yang sedang mengatur strategi hidup untuk mencapai masa depan yang lebih baik, dan ada pula yang kabur dari rumah untuk menghindari tendensi orang-orang yang mengecilkan hati mereka untuk mencapai impian (sekali pun orang tua), tapi banyak juga orang yang memang bertujuan untuk belajar, termasuk memenuhi standar melanjutkan studi di luar negeri (TOEFL/IELTS). Semua tujuannya sama, menambah ilmu dan mengisi waktu luang dengan sesuatu yang bermanfaat.
4. Kurikulum belajar di sini beda, dan lebih efektif?
YA. Kalau kursusan pada umumnya mengintegrasikan kurikulum. Kalau di sini agak bereda. Bahkan untuk kelas grammar, sampai dibuat ‘level’ dengan pembahasan yang lebih mendalam. Bahkan ada juga yang menyediakan program ‘writing’ (Elfast dan Global English) dan Translation untuk aplikasi dari berbagai materi grammar yang telah diberikan. Begitu pun kelas speaking, disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya, yang belum percaya diri untuk ‘ngobrol’ dalam berbahasa inggris, bisa pilih kursusan dan program yang bertujuan untuk meningkatkan percaya diri. Kalau sudah percaya diri tapi pendengaran belum terbiasa dengan kata-kata yang keluar dari native asli Amerika atau Inggris, bisa pilih program yang ‘kuat’ di listening. Atau, kalau anda sudah lebih ‘Pro’ bisa ambil Public Speaking (The Daffodils) dan Profesional Communication (Elfast), atau program lain yang selevel dengan program ini di kursusan lainnya. Tapi, perlu diingat, semua ini percuma kalau anda tidak banyak latihan dan belajar secara independen di luar kelas. Suasana di sini kondusif untuk belajar bahasa inggris, dan tidak perlu malu untuk memulai percakapan dalam bahasa inggris. Beberapa kursusan juga menyediakan native dari Amerika untuk melatih kemampuan speaking dan listening anda.
5. Bisa belajar berbagai kultur masyarakat Indonesia dan memperluas koneksi di sini?
YA. Beragam suku ada di sini, meskipun yang mendominasi (setelah suku Jawa) adalah Makasar. Tapi, di sini anda bisa membangun dan menjalin relasi dengan masyarakat dari berbagai daerah. Di sini saya sudah berteman dengan orang-orang dari Aceh sampai Papua, mulai dari TKI sampai aktivis NGO UNFP. Sangat beragam.
6. Banyak yang ‘cinta lokasi’ di desa ini?
YA. Menurut sebagian besar responden saya, banyak yang menemui ‘jodoh’nya di desa ini, yang akhirnya menikah juga banyak. Nah, itu yang beruntung, menurut pandangan saya, tidak semudah itu mempercayai orang di sini dalam konteks ‘pasangan hidup’. Berdasarkan, berbagai narasumber yang saya wawancarai, konteks ‘pacaran’ di sini adalah ‘short-term relationship’ alias buat menghilangkan kesepian selama ada di sini saja. Bahkan, ada yang tertimpa ‘sial’ alias didatangi istri pacarnya (alias dilabrak). Mengapa terjadi? Bagaimana pun sulit untuk mengetahui latar belakang seseorang yang sebenarnya selama anda di sini (termasuk soal status pernikahan, pekerjaan, dll). Tidak semuanya seperti itu, hanya sebagian kecil. Tapi, mencegah lebih baik dari pada mengobati, bukan?
7. Desa ini desa tertinggal yang fasilitas publiknya masih terbelakang?
TIDAK. Bagi anda yang tinggal di kota besar, termasuk JAKARTA, perlu anda ketahui meskipun namanya Kampung Inggris, tapi ini bukan desa pedalaman tanpa akses publik. Desa ini dialiri listrik, banyak warnet, bank dan ATM, rumah sakit, restauran, warung nasi + wifi, kantor pos, hotel, dan lain-lain. Tidak perlu khawatir, anda bisa hidup di sini. Kenapa ada poin ini? Karena saya suka ‘gatel’ kalau ada anak ‘KOTA’ yang pas dateng ke sini dan bilang “Gw kira di sini terisolasi gitu”.
So, sekarang sudah ada gambaran mengenai desa ini? Kehidupan biasa, dengan tujuan yang sama, belajar. Jangan berekspektasi secara berlebihan dan percaya dengan media (mungkin termasuk hasil survei saya). Jadi, usahakan anda mendapat informasi dari seseorang yang pernah mampir ke sini. Tapi, tidak dengan ‘polesan’ cantik yang kurang objektif.
Pilih Sepeda di Kampung Inggris
Kendaraan yang paling banyak digunakan member kursusan di kampung inggris adalah sepeda. Banyak sekali tempat penyewaan sepeda di sini. Bahkan ada camp atau kosan yang sudah menyediakan sepeda untuk disewakan. Jadi, kalau menjadi member di camp itu, anda wajib menyewa sepedanya juga. Misalnya, Brata Institute.
Harga sewa sepeda di sini berkisar antara Rp 45-60 ribu per bulan atau Rp 100 ribu untuk Fixie, semua tergantung kelihaian anda dalam menawar. Kalau saya pakai strategi SKSD (Sok Kenal Sok Deket), sok asik saja sama abang rentalnya. Karena sepeda yang saya pakai kondisinya masih bagus dan baru diservis rutin, saya kena harga paling mahal Rp 60 ribu. Tapi saya tidak terima begitu saja. Saya minta potongan harga kalau saya perpanjang sewa sepedanya. Dan betul, di bulan berikutnya saya hanya membayar Rp 50 ribu. (Dan, saya akan minta potongan lagi untuk bulan depan
).
Biasanya persewaan sepeda memberikan waktu garansi sampai 3 hari. Kalau ada yang tidak beres dengan sepedanya, kita bisa minta servis gratis atau menukarnya. Tapi, kalau sudah lebih dari waktu yang telah ditentukan, biaya servis ditanggung penyewa.
Banyak hal yang harus diperhatikan sebelum memilih sepeda. Cek dulu keamanan sepeda untuk kenyamanan anda saat berkendara. Misalnya, angin ban, kebisingan saat dikayuh, kondisi pedal, kondisi rantai, dan yang paling penting adalah REM. Banyak sekali kecelakan besar maupun kecil yang terjadi di Kampung Inggris akibat rem sepeda tidak bekerja semestinya alias ‘blong’.
Dan, saya mengalaminya sendiri. Saya sempat menabrak sesama pengendara sepeda yang pada saat itu ngebut dan rem sepedanya sama sekali tidak berfungsi. Hari sebelumnya saya memasukkan sepeda saya ke bengkel untuk diperiksa karena bannya tidak stabil. Selama sepeda diperbaiki saya dipinjami sepeda yang lain. Sebetulnya, remnya bekerja, tapi tidak terlalu baik.
Hari itu saya terburu-buru karena ada ujian di kursusan lain. Saya mengendarai sepeda dengan cepat dari kursusan The Daffodils menuju Mr.BOB. Saat saya melaju cepat di depan kursusan Kresna, tiba-tiba seorang pengendara sepeda muncul dari sebuah gang dengan kecepatan tinggi. “DDUUAARRR!!?!” dan terjadilah kecelakaan itu. Saya baik-baik saja. Utuh luar biasa, termasuk sepeda pinjaman yang saya pakai. Tapi tidak dengan orang yang saya tabrak, dia jatuh dan kakinya memar. Terlebih lagi, rodanya rusak dan berubah bentuk seperti huruf ‘U’.
Setelah kami berbicara satu sama lain, dia juga mengaku salah. Ternyata sepedanya tidak ada remnya. Jadi, kami mengaku sama-sama salah dan menyelesaikan secara kekeluargaan dengan membawa sepeda itu ke bengkel.
Mungkin bagi sebagian orang, kondisi sepeda itu sepele. Tapi, kalau sudah terjadi hal yang tidak diharapkan barulah terasa betapa pentingnya memerhatikan kondisi sepeda yang kita pakai.
Lain lagi kalau soal keamanan secara sosial. Member kursusan di Kampung Inggris ini ‘diwanti-wanti’ untuk mengunci sepeda masing-masing saat sedang tidak digunakan, serta tidak meletakan tas dan benda berharga di keranjang sepeda selama perjalanan. Tidak bermaksud medeskriditkan desa ini. Tapi, menurut salah seorang tutor di salah satu kursusan terbesar di kampung ini, sudah beberapa kali terjadi penjambretan karena pengendara sepeda meletakan tasnya di dalam keranjang sepeda. Selain itu, pelaku juga suka iseng dengan menyentuh bagian tubuh (perempuan), semacam pelecehan seksual gitu lah.
Tidak perlu terlalu dikhawatirkan, cukup diwaspadai dengan tidak memancing kejahatan itu. Jangan pernah meletakan tas dan benda berharga di keranjang, serta pakailah busana yang sopan (lengkap dengan masker, kaos kaki, dan sarung tangan, karena udara di sini panas menyengat).
Bakso Bakar ala Brawijaya
Usai mengambil English Corner Class (E-Cor), salah satu Speaking Class di ELFAST, saya dan salah satu rekan satu camp dan kursusan, Nonong, mampir di warung Bakso Bakar di Jl. Brawijaya, Desa Tulung Rejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Ya, masih di Kampung Inggris. Lagi-lagi karena penasaran.
Warung sederhana selayaknya warung tenda kaki lima biasa ini terletak tepat di depan bimbingan belajar Totalwin College di Jl. Brawijaya No.75. Menu yang disajikan hanya tiga yakni bakso bakar, bakso biasa, dan kelapa muda. Tentu saja saya pesan bakso bakar yang menjadi khasnya. Untuk menambah nikmatnya bakso bakar, saya juga memesan kelapa muda.
Bakso bakar sama seperti bakso pada umumnya. Terbuat dari daging dan berbentuk bulat. Nah, bedanya bola-bola daging ini ditusuk layaknya sate, dibakar, dan disajikan dengan kuah terpisah. Yang ada di dalam kuah hanya bihun, irisan daging, daun bawang, dan bawang goreng, layaknya kuah bakso pada umumnya.
Rasanya gurih, seperti bakso ikan. Jadi, rasanya gurih seperti otak-otak tapi agak manis. Enak! Untuk mendapatkan seporsi bakso bakar dan satu buah kelapa muda, saya harus mengeluarkan kocek Rp 10 ribu. Ya, Rp 5 ribu untuk bakso, dan Rp 5 ribu lagi untuk kelapa. Bakso bakar ini seharga nasi + ayam (oreng/bakar/opor) di warung nasi yang ada di Kampung Inggris. Nah, soal mahal atau nggaknya, itu relatif. Tergantung kepuasan yang anda dapat setelah menyantapnya.
Keong Racun dari Kampung Inggris
Belajar sambil berwisata, ini tujuan saya datang ke Kampung Inggris atau Kampung Bahasa di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Termasuk wisata kuliner. Ngomong-ngomong soal kuliner di Pare, sebelumnya saya sempat membaca soal sate bekicot di salah satu tulisan senior saya, Muhamad Iqbal, sesama alumni Koran Kampus IPB, di Backpackin’ Magazine vol. 13.
Penasaran! Ya begitulah. Untuk memenuhi rasa penasaran saya soal sate bekicot, saya menempuh jarak yang cukup jauh dari camp tempat tinggal saya, Mahesa Princess Camp 4, ke alun-alun Kota Pare. Entah berapa kilometer, kalau tidak salah jarak tempuhnya sekitar 30 menit bersepeda (di sini kendaraan utama member kursusan adalah sepeda).
Tepat di malam minggu, dapat dipastikan alun-alun ramai dipenuhi warga Pare dan pendatang. Menurut salah satu rekan saya, sebut saja ‘Nonong’, perempuan sebaya saya asal Kalimantan Barat yang telah menetap di Pare sejak Januari 2012 lalu, biasanya alun-alun dipenuhi member kursusan di hari Sabtu dan Minggu pagi. Karena umumnya member kursusan hanya memiliki libur di kedua hari tersebut.
Kembali ke sate bekicot, saya menghampiri seorang penjual sate bekicot di tepi jalan persis di alun-alun, tidak jauh dari kantor pos dan tugu. Seorang ibu separuh baya mejajakan dagangannya. Tidak hanya sate bekicot, tapi juga ada sate telur puyuh, sate ati ampela, dan sate usus ayam. Namun sate bekicotlah yang menjadi menu utama.
Saya membeli seporsi kecil (10 tusuk) dengan harga Rp 3 ribu. Sate disajikan dengan saus kacang. Tapi lebih mirip saus batagor atau siomay dari pada sate madura (apalagi sate padang). Sebagian orang mungkin merasa jijik, tapi entah mengapa rasa penasaran mengalahkan segalanya malam itu termasuk rasa jijik. Satu tusuk pertama, saya masih belum bisa mendeskripsikan rasanya. Tusukan kedua, mendeskripsikan rasa tawar. Tusukan ketiga (terakhir), mendeskripsikan rasa asam dan pahit.
Awalnya, saya membayangkan rasa gurih macam sate usus atau kerang rebus. Ternyata beda. Dan akhirnya, saya tidak sanggup menghabiskan semuanya. Karena niat dari awal cuma ingin mencoba. Tidak untuk jadi lauk untuk menjadi teman makan malam saya. Begitu pun dengan Nonong, dia tidak sanggup menghabiskan sate bekicot yang ia beli. Mungkin ini soal selera, lidah kami belum terbiasa atau memang tidak bisa menerima sate tersebut.
Lain cerita saat kami hendak makan siang di salah satu warung nasi di Jl. Dahlia, saya lupa namanya apa. Tapi yang saya ingat letaknya bersebelahan dengan kursusan Brata dan berhadapan dengan kursusan Acces-es. Warung makan ini menyediakan makanan secara prasmanan. Saat sedang memilih lauk yang akan saya makan, saya menemukan makanan sejenis bekicot atau mungkin sama (ini cuma soal istilah).
Penasaran, saya beli. Saya tanya ke ibu penjualnya, “Apa ini bu?” dan dengan singkat ia menyebutkan kata yang berbunyi “Qul”. Setelah menanyakan beberapa kali, ternyata yang barusan saya beli itu adalah keong sawah.
Kalau dilihat sepintas memang bentuknya mirip, tapi agak bulat. Saya cicipi. Kali ini rasanya lebih baik. Mungkin karena bumbu dan cara masak yang berbeda. Kali ini Qul dimasak dengan rempah layaknya rendang basah atau tumisan kari pedas. Tapi, menurut saya rasa original dari lauk yang saya makan ini ‘plain’ atau tawar. Tidak seperti kerang dara atau kerang hijau yang memiliki rasa yang khas. Belum bisa menyimpulkan sendiri, saya minta Nonong mencobanya. Dan, ia pun berbendapat sama. Ikut penasaran? Silahkan coba sendiri.
DINA BERINA
Serba-Serbi Soal ‘Ngopi’
Indonesia merupakan negara ke-4 di dunia dalam hal produksi kopi. Tapi, bukan itu yang bikin gw (selaku warga negara Indonesia) jadi cinta sama kopi. Terlepas dari ranking dan manfaat sosial-ekonomi dari kopi. Kecintaan gw ke kopi sesimple ‘suka aromanya’ atau bahkan chemistry setelah meminumnya. Sampai-sampai rasanya diri gw bisa bikin sugesti ‘belum bisa mikir kalo belum ada kopi’.
Kecintaan gw yang lebih mirip sifat adiktif, ini bermula saat gw masih SMA. Sebetulnya gw suka nyolong kopi bokap (kopi hitam, sebut saja Kapal Api), waktu gw masih kecil, kira-kira SD lah. Berlanjut pas SMA, dulu ceritanya gw study oriented gitu (kalo inget jadi lucu sendiri). Awalnya, minum kopi untuk ngurangin jam tidur, biar waktu melek untuk belajar bisa lebih banyak. Waktu itu rekornya 3 kaleng Nescafe sehari. Dulu sih ngaruh, sekarang mau 5-7 gelas sehari, tidur ya tidur aja.
Lanjut lagi pas jaman kuliah, biasanya kalo nunggu jeda kuliah gw nongkrong di kantin Sapta Dharma Fakultas Teknik Pertanian (Fateta) IPB buat ngopi. Intensitas makin sering kalo mau deadline koran (dulu gw aktif di Koran Kampus IPB) sama edit video dokumenter atau video dokumentasi BEM FEM IPB. Start abis Sholat Isya sampe Subuh bisa 5-6 cangkir/gelas.
Begitu pun saat kerja, waktu gw di Tempo, biasanya cari wifi di warung kopi. Kalo liputannya di Sudirman gw ke Anomali Senopati, Kalo liputannya di Kuningan gw ke Anomali Setiabudi. Gak nemu warung kopi? J.co atau warteg juga gak apa-apa.
Soal kopi, buat gw (mungkin sugesti) bisa bantu memunculkan ide inspiratif, konsentrasi, sampai hiburan tersendiri. Misalnya, dulu kopi bantu gw dapet nilai ‘sempurna’ di sekolah. Kopi juga nambah temen dan sahabat baru buat gw, banyak dan nggak perlu gw sebutin satu-satu, semua berawal dari ‘ngopi’ bareng. Satu persahabatan yang diawali kopi pun terjadi di ruang rapat besar Tempo, Velbak. Ayu Primasandi namanya. Dia samalah, coffeeholic juga. Perbincangan dimulai dengan “Din, lo suka kopi juga? gw juga! dan punya tips bikinnya,” and it sticks in my memory.
Lain cerita kalo soal bos gw di Tempo, Harun Mahbub, mungkin kopi udah bikin dia ‘khilaf’. Kenapa? entah itu tanggal berapa, yang pasti itu 1st sight gw sama dia, setelah pergeseran redaktur (staf redaksi), kalo nggak salah 1 Januari 2012. Waktu tu gw sengaja bikin kopi satu mug besar, kira-kira tingginya 15-20 Cm. Setelah minum SATU teguk, gw taruh di meja. Saat itu, gw stay di meja itu juga, sambil nulis.
Dan, si bos pun lewat. Ambil kopi gw, yang baru seteguk diminum, pergi berlalu membawa si kopi, meneguknya sampa habis, dan mug dikembalikan ke pantry tanpa sepatah kata pun. Waktu itu gw cuma cengo’, mata gw ga lepas dari kelakuan konyol itu, sampe dia balik gw sok serius nulis lagi. “Astaga, kayanya bos gw seru nih. Agak suka ngelawak,” pikir gw sambil ketawa dalam hati (dan itu terbukti). Abis itu gw bikin kopi lagi
Balik lagi soal kopi, pagi ini iseng-iseng browsing sana-sini soal kopi. Dan menemukan Coffee Community yang isinya share all about coffee. Semoga bermanfaat. Mau nulis sendiri tapi gw pantang menulis kalo belum tersetuh panca indera gw sendiri. So, check this out guys!
Love Today
Everybody’s gonna love today.. love today.. love today..
Love.. Love me…
Shock.. Shock me..
Over The Rainbow
Somewhere over the rainbow, skies are blue
And the dreams that you dare to dream,
Really do come true.
*Selalu merinding dan pengen mewek kalo denger lagu ini dinyanyiin Connie Talbot. :’)
