Search

Whatever…

every minute you are angry you lose sixty seconds of happiness.

Bertani di Rumah?

Kailan
Kailan

Hai! Sudah lama sekali rasanya saya tidak memperbarui isi blog ini. Maklum ya, dalam dua tahun terakhir beberapa hobby baru muncul dan cukup membuat saya lupa untuk berbagi. Dari sekian kegiatan yang saya lakukan, bertani di rumah adalah yang paling menyita perhatian saya. Nah, kali ini saya akan berbagi sedikit cerita mengenai hobby saya yang relatif baru ini.

Cabai Besar Landung
Cabai Besar Landung

Awal tahun 2014, saya mulai mengenal istilah urban farmer (petani kota). Ehm, saya lebih suka istilah petani rumahan sih. Kebetulan saya suka beli benih di petanirumahan.com, bukan mau promosiin toko orang, tapi sekedar mengapresiasi keberadaan toko online ini yang telah membantu saya dengan menyediakan benih dengan kuantitas yang pas untuk berkebun di rumah, dan yang paling menarik adalah ‘harga’ benih tersebut Rp 1000,- saja.

Pakchoy
Pakchoy

Selain benih, saya juga mulai belajar mengenai pupuk organik/anorganik, hormon tanaman, dan hama. Ya, hama. Mahluk ini yang paling menyita perhatian, terutama kutu daun! Maklum, saya baru bisa menanam beberapa jenis cabai. Dan, sudah hampir pasti kutu daun merajalela kalau tidak ada penanganan khusus. Banyak orang yang sudah dibuat patah hati oleh si kutu daun ini. Kenapa saya bilang patah hati? Begini, belakangan urban farming memang jadi trend, banyak sekali orang dan komunitas yang sekarang aktif menghijaukan lingkungan dengan tanaman produktif seperti buah dan sayuran. Namun, semangat itu bisa luntur seluntur-lunturnya saat tanaman yang diharapkan ‘menghasilkan’ malah jadi gagal panen. Saya pun pernah mengalaminya. Sampai saya mencoba berbagai cara agar si kutu minggat!

Cabai 7Pod Trinidad
Cabai 7Pod Trinidad

Setelah berkeliling dari website dan blog untuk mencari solusi menangani kutu, saya belum berhasil menemukan cara yang praktis dan mungkin gak perlu rutin-rutin amat.

Sampai akhirnya, saya memanfaatkan garam inggris/garam epsom (MgSO4) food grade untuk merevitalisasi dedaunan yang mulai keriting akibat virus yang dibawa si kutu. Bunga pun layu dan rontok (gimana bisa berbuah?). Lalu, setiap akhir pekan saya bersihkan tiap lembar daun cabai yang saya tanam (agak kerajinan sih) sambil mengajak tanamannya ngobrol. Saya suka bilang sama mereka “sehat sehat ya, aku nungguin buahmu loh, cantik”. Mungkin terdengar ‘lebay’ atau agak ‘gila’. Tapi, modal yakin saja deh kalau itu bakal mempengaruhi proses pemulihan tanamannya.

Cabai 7Pod
Cabai 7Pod

Akhirnya saya beli Pest and Insect Repeller dan meletakannya di colokan listrik yang terdekat dengan kebun. Menurut informasih sih, jangkauannya bisa sampai dengan 90 meter persegi. Dalam 3-4 hari memang belum terlihat efeknya, jadi saya masih harus membersihkan kutu-kutu di daunnya.

Tomat Cherry
Tomat Cherry

Tapi setelah kurang lebih 10 hari, kutunya gak datang lagi! It works so well! Eits, jika anda mau pakai ini juga pastikan juga repellernya mengeluarkan gelombang yang mengganggu pendengaran kutunya, kalau tidak salah sekitar 40-45 ribu Hz.

Sekarang bunga cabainya sudah mulai banyak. Bahkan, beberapa tanaman sudah kelihatan buahnya.

Pesan saya buat anda yang baru memulai, jangan menyerah ya! Justru dengan merasakan susahnya bertani mungkin kita bisa lebih menghargai para petani yang sudah menyediakan bahan makanan kita. Selamat bertani!

Martabak Telur Tiga Generasi

Tepat pukul enam petang, saya turun dari angkot Baranangsiang-Laladon (03) di depan Perumahan Dosen IPB Sindangbarang. Saya tidak sendirian, ada Rini, teman satu kost. Kami mampir di salah satu gerobak pedagang kaki lima, martabak telur. Rini memesan martabak ukuran kecil, Rp 10.000 harganya. Ukurannya kurang lebih sekitar 15 x 10 cm.

Sebut saja Rahman (bukan nama sebenarnya, saya lupa tanya), si penjual martabak. Dia mengambil sedikit adonan kulit martabak, dikepalnya adonan itu, kira-kira berdiameter 3 cm. Dipipihkan. Diayun-lemparkan ke talenan alumuniumnya. Hingga melebar dan tipis sekali. Sekarang diameternya 40 cm.

Saya punya kebiasaan, bertanya, dan sedikit ingin tahu. Meskipun kadang tidak penting. Dan percakapan ini, berawal dari kebiasaan saya itu (entah ini baik atau buruk).

“Mas, belajar yang tadi itu (menipiskan adonan) berapa lama?” tanya saya.

“Enam bulan Mbak,” jawabnya.

“WOW! beginian nggak instant juga rupanya” respon spontan saya.

“Dulu ikut orang dulu? jadi asisten gitu?” lanjut saya.

“Iya, ikut Bapak.” Jawabnya.

“Sejak kapan belajarnya?” Rini ikut membredel Rahman dengan pertanyaan.

“Sejak lulus SMP Mbak, segitu lulus ikut Bapak jualan.” Jawabnya lagi.

“Sudah berapa lama jualan?” sejujurnya ini pertanyaan saya untuk mengestimasi usia Rahman (hehehehe…)

“Kira-kira sepuluh tahun lebih sedikit lah Mbak.” Jawabnya sambil menyirami minyak panas ke adonan martabak yang sudah ada di wajan.

Seketika, Rahman yang tampil kasual dengan jeans dan t-shirt dominan putih polos dengan lengan berwarna merah, sambil membenarkan posisi jam tangan dan gelang kayu hitamnya menceritakan sepenggal kisah hidupnya.

Setamat SMP ia pindah ke Bogor bersama ayahnya. Niatnya lanjut sekolah, sambil membantu ayahnya berjualan. Tapi, keasyikan membantu ayah berjualan, membuatnya dropped out dari sekolah. Iya mengaku, memang menikmati profesinya sebagai pedagang. Apalagi ini memang sudah usaha keluarga secara turun-temurun.

“Keluarga besar hidup dari martabak, Mbak. Martabak ini sudah sejak zaman kakek saya.” Rahman mengisahkan.

Rahman sudah menjadi generasi ketiga yang menjalani usaha ini. Kakek, ayah, dan paman-pamannya juga menggeluti bidang yang sama. Keluarganya yang berprofesi sebagai penjual martabak sudah tersebar dimana-mana. Ada yang di Tangerang, tapi kebanyakan ada di Bogor.

“Ada yang di Pagelaran, Jembatan Merah, Pasir Kuda, sama saya di sini (kaki lima lampu merah Sindangbarang)” Jelasnya.

Ia mengaku sebagai generasi terakhir di keluarganya yang menggeluti usaha martabak ini. Berbeda dengannya, saudara dan sepupu-sepupunya memilih menjalani pendidikan formal dan bekerja sesuai latar belakang pendidikan mereka.

“Kebanyakan kuliah, ada yang di Akper (Akademi Keperawatan), saya aja ini yang dagang.” Katanya.

“Ya, kalau sudah jiwanya dagang lanjut aja mas. Mungkin sudah dari sananya begitu.” Kata Rini.

“Yang penting berkah, mas” saya memotong.

“Iya, Mbak. Sudah dari sananya jiwanya begitu. Susah diatur. Tidak suka diatur-atur sama orang lain.” Jawabnya tegas sambil tersenyum dan memberikan sebungkus martabak telur kepada Rini.

Sekian, kisah dari pertanyaan iseng-iseng saya dengan pedagang kaki lima.
Baru sadar, mungkin kalau dari dulu pertanyaan saya kepada pedagang kaki lima macam ini ditulis, sudah jadi berapa bundel ya.
hehehehe… meskipun saya selalu bermasalah dengan ENDING!

Baiklah, semoga anda, sebagai pembaca, bisa menyimpulkannya sendiri.

Bogor, 23 Juni 2013

Dina Berina

Sekaleng Rengginang

Rengginang

Terlempar satu topik biasa di ruang keluarga yang remang-remang. Nenek yang setengah terkantuk-kantuk memaparkan kisah sawah dan ladangnya yang kini terhimpit tembok dan beton. Sawah dan bukit warisan almarhum suaminya kini berada di antara komplek perumahan yang mulai didirikan sejak kurang lebih 5 tahun lalu.

“Sudah ada yang nawar,” katanya.

Developer perumahan sudah ada yang datang dan menawarkan sejumlah uang untuk membeli lahan milik nenek. Belakangan, lahan itu memang sudah susah air, hanya mengandalkan hujan untuk bisa menanam padi. Aliran air dari saluran irigasi lebih banyak kering ketimbang ada airnya. Mungkin curah hujan di Gunung Galunggung sudah tak setinggi dulu.

Bukit digunakan untuk usaha kebun sengon anaknya. Kalau yang ini dulu sempat ditawar Balai Benih Ikan Kabupaten Tasikmalaya. Meskipun tidak dimakamkan di sana, semasih hidup, kakek tidak mau melepasnya. Ada makam keturunan dan menantunya di sana. Dulu, kakek pernah bercerita pada ibu, bukit kecil itu ia dedikasikan untuk keluarga dan keturunannya. Untuk suatu hari dimakamkan di sana. Menurutnya, Tidak perlu bayar tanah untuk pemakaman. Tidak perlu diperpanjang ketika masa kontrak habis. Dan, jika suatu hari lahan pemakaman semakin terpinggirkan layaknya sawah. Keturunannya masih punya tempat peristirahatan gratis. Itu yang paling penting, gratis.

Balik lagi ke sawah, developer datang dengan menawarkan uang Rp 90 juta untuk lahan berukuran 350 bata (satuan ukur yang familiar di tengah penduduk Tasikmalaya, 1 bata = 14 meter persegi) atau setara dengan 4.900 meter persegi. Artinya, lahan dihargai Rp 18.367,35 per meter persegi. Kalau dilihat Rp 90 jutanya memang cukup besar. Tapi, apa benar berhenti sampai di situ?

Kalau ditabung di bank konvensional yang bunganya 4% per tahun, nenek hanya dapat Rp 3.6 juta untuk hidup selama satu tahun. Sama halnya dengan bunga deposito 1% per 3 bulan. Tapi, nenek yang hidup dan menghidupi orang dari sawah itu punya pemikiran lain. Selama ada sawah itu, nenek tidak perlu membeli beras untuk konsumsi setahun. Bahkan, beras-beras yang dijual bisa menghidupinya ketimbang riba bank 4% setahun. Dan, yang paling penting adalah lapangan kerja untuk petani penggarap. Nenek yang tidak ‘makan sekolahan’ saja bisa memikirkan hajat hidup orang-orang di kampungnya. Beda dengan sebagian orang muda yang sekolah setinggi-tingginya, bahkan ada yang gelarnya lebih panjang dari nama aslinya.

Yang muda, yang instan. Duit.

“Nanti mau bikin ini saja susah,” kata nenek sambil menggoyang-goyangkan kaleng isi rengginang. Kerupuk khas Jawa Barat yang dibuat dari beras. Memang, akan terasa beda sekali kalau datang ke rumah nenek tanpa ada peuyeum dan rengginang di atas meja. Maklum, sejak aku lahir dan dikenalkan dengan rumah nenek di Tasik, hampir tidak pernah kujumpai meja tanpa dua makanan tersebut.

Mungkin itu semacam perumpamaan sederhana dari nenek. Memudahkan alih fungsi lahan sawah semakin menjadi ancaman hilangnya tradisi, lapangan kerja, dan yang paling penting hilangnya beras dalam negeri ‘perlahan-lahan’. Tidak menjadi masalah besar jika rakyat Indonesia, terutama si pemakan nasi, sudah bisa mensubstitusi sumber karbohidratnya dengan jagung, ubi, singkong, dan/atau sumber lainnya. Tapi, nyatanya belum.

Anything Wrong?

Entah kenapa foto ini mendadak jadi paling fenomenal di antara Profile Picture Saya yang lain di FB.

Hijab

“And tell the believing women to reduce [some] of their vision and guard their private parts and not expose their adornment except that which [necessarily] appears there of and to wrap [a portion of] their headcovers over their chests and not expose their adornment except to their husbands, their fathers, their husbands’ fathers, their sons, their husbands’ sons, their brothers, their brothers’ sons, their sisters’ sons, their women, that which their right hands possess, or those male attendants having no physical desire, or children who are not yet aware of the private aspects of women. And let them not stamp their feet to make known what they conceal of their adornment. And turn to Allah in repentance, all of you, O believers, that you might succeed.” _24:31

  1. Hijab bukan pernyataan “aku sudah baik“, atau “aku tanpa dosa“, hijab adalah pernyataan sederhana dari “aku ingin taat“.
  2. Lelaki buaya berhidung belang suka aurat terbuka untuk mereka nikmati, puaskan nafsu dengan lekuk tubuh yang ditelusuri.
  3. Perhatikan olehmu Muslimah, saat wanita minim kain dan nyata lekuknya melintasi seorang lelaki, maka mata mereka mengikuti kemana ‘pertunjukan’ pergi.
  4. Wanita tanpa hijab sediakan diri sendiri diperkosa lewat mata, jika saja mereka mengetahui apa yang lelaki itu pikirkan di dalam kepalanya.
  5. Sedang wanita berhijab mempersilahkan lelaki menghormatinya dari segi apapun, asal tidak dari fisik badan.
  6. Perhatikan olehmu Muslimah, saat yang berhijab lengkap melenggang di hadapan lelaki, tunduk pandang dibuatnya, pikiran mereka diam.
  7. Itu baru di dunia, di akhirat lebih lagi. Saat masuki surga engkau disalami para malaikat, dan saat menghadap Allah? Subhanallah.
  8. Bila Allah menanyakan, mengapa layak surga diberikan padamu? Setidaknya bisa kau jawab, “Telah kuhijab apa yang Engkau perintahkan.”
  9. “Ketika Rasul-Mu berucap kami dengar-patuh, karena tiada Rasul kami menyelisihi-Mu”. “Terimalah hijab kami jadi tanda kami umat Rasul-Mu.”
  10. Hijab membuatmu terhormat di dunia dan mulia di akhirat. Hijab buat cantikmu tak lekang diseret waktu, bagai emas 24 karat.
  11. Memang terkadang berat menyeret jilbab, agak sulit mengulur kerudung.  Namun bukankah dalam tiap kepayahan dalam taat akan dibalas?
  12. Hijab membantumu tegaskan pada dunia, auratmu bukan murahan lagi gampangan. Hanya yang mampu datangi walimu dan akad yang berhak.
  13. Hijab membantumu menghemat kata-kata untuk jelaskan siapa dirimu pada manusia, dan membantu malaikat rakib mudah catat amal baikmu
  14. Bila Allah dan Rasul sudah jelas memerintahkan hijab, maka alasan apapun ‘basi’ dihadapannya.

Sumber:  Ustadz Felix Siauw

Me and Sea, Perfect Couple.

Peaceful is Priceless

Onara Taisou (Nodame Cantabile)

 

Lyric: Ninomiya Tomoko, Noda Megumi, Poo Tarou
Music: Noda Megumi

Minna atsumare!
Onara taisou no jikan da yo!
Onara Taisou Ou~~!
San hai

genki ni dasou ii oto dasou
DO RE MI FA PU PU PU wa~
ookiku tatte chiisaku tatte
douse onaji onara damon
te~ wa koshi ni saa ikuzo
hei hei pu~

minna de dasou waratte dasou
DO RE MI FA PU PU PU wa~
tousan datte kaasan datte
minna onaji onara damon
so~ra takaku saa ikuzo
hei hei pu~

nandaka dasou mou sugu dasou
DO RE MI FA PU PU PU wa~
genki na onara kawaii onara
kondo wa donna no derun darou

so~re minna de saa ikuzo
hei hei pu~ (detaa)

Click HERE for Translation

Maru Maru Mori Mori

Kaoru to Tomoki Tama ni Mook – Maru Maru Mori Mori

Maru maru mori mori minna taberu yo
Tsuru tsuru teka teka ashita mo *Wan~* hareru kana

Dabadua dabajaba
Wasuremono suru na yo
Dabadua dabajaba dua

Ookiku nattara osora ni koe ga todoku kana
Itsumade demo issho da yo!

Maru maru mori mori minna taberu yo
Tsuru tsuru teka teka ashita mo *Wan~* hareru kana

Kanashikute naiteita hitori aruku kaerimichi
Konna toki honwaka na
Minna ni aitai naa…

Maru maru mori mori omajinai da yo
Tsuru tsuru teka teka nikkori egao
Ichi ni no san shi de goma shiosan
Takusan da to oishii ne

Maru maru mori mori puka puka ofuro
Tsuru tsuru pika pika goshi goshi burashi
Minasan gunnai mata ashita
Asagohan wa nan desho ne?

Dabadua dabajaba
Onaka dashite neru na yo
Dabadua dabajaba dua

Otona ni natte mo nijiiro no yume wo egakou ne
Yubikiri shite tere rinko

Ohoshisama kirei da ne te wo tsunaide negaigoto
Tatoe tooku ni ite mo
Kokoro wa hitotsu da yo

Maru maru mori mori shiawase genki
Teku teku toko toko mae ni susumu yo
Ichi ni no san shi de hoomu ran
Ai ga ippai randoseru

Maru maru mori mori ookiku naru yo
Doki doki waku waku doa wo akeru yo
Minasan shikkari mata ashita
Motto suteki na hi ni naru

Daisuki da yo!!!

Maru maru mori mori saa utaimashou!
Tsuru tsuru teka teka nikkori egao
Ichi ni no san shi de goma shiosan
Takusan da to oishii ne

Maru maru mori mori puka puka ofuro
Tsuru tsuru pika pika goshi goshi burashi
Minasan gunnai mata ashita
Asagohan wa nan desho ne?
Itsumo itsumo arigatou!

Dabadua dabajaba dubiduba
Dabadua dabajaba dua

Yoku dekimashita!

Click HERE for Translation

Menangis

“Do not apologize for crying. Without this emotion, we are only robots.”
― Elizabeth GilbertEat, Pray, Love

Menangis sudah menjadi hal yang lumrah saat seseorang tidak dapat membendung perasaan yang meluap di hatinya. Umumnya disebabkan oleh kesedihan dan kekecewaan yang mereka terima. Hal tersebut sesuai dengan pengertiannya secara etimologi, menangis memiliki kata dasar tangis yang bermakna ungkapan rasa sedih (kecewa, menyesal, dan sebagainya) dengan mencucurkan air mata dan mengeluarkan suara. Namun, ada kalanya seseorang meneteskan air mata, saat ia merasa bahagia dan begitu mensyukuri berkah dan rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Percayalah, tertawa itu spontan tapi menangis butuh proses.

Jika dilihat dari sisi prosesnya, tertawa itu lebih mudah dari pada menangis. Sedikit lelucon sudah bisa menggerakan otot dan garis senyum anda. Sebaliknya, menangis membutuhkan proses yang lebih kompleks. Stimulannya tidak sembarangan, benar-benar perlu dicerna hingga bisa dirasakan dan diekspresikan melalui tetes air mata. Bahkan, sebagian orang menahannya dengan berbagai alasan dan motivasi (malu, gengsi, dan sebagainya).

Menurut Brizendine, penulis buku ‘The Female Brain’, kondisi sosial sangat mempengaruhi individu bertahan untuk tidak menangis. Dan, isak tangis merupakan bentuk respon spontan tubuh dalam menahan tangis. Prosesnya seperti ini, saat tubuh menerima sakit secara fisik atau kesedihan secara emosional (frustasi), sistem limbik atau ‘otak emosional’ akan merangsang sinyal yang kemudian diantarkan ke dalam strip motor frontal. Dampaknya adalah nafas yang terisak-isak.

Menangis juga diidentikan dengan perempuan.

Konon karena perempuan memiliki perasaan yang lembut dan lebih mudah tersentuh. Bahkan kadang diidentikan dengan kelemahan, disamaartikan dengan ketidakberdayaan, dan hal sejenisnya. Namun, terlalu subyektif rasanya jika hanya melihat cara pandang sosialnya. Tuhan memang menciptakan ‘spare part’ yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan, ―tentunya tidak untuk keperluan reproduksi saja. Perlu diketahui juga, berdasarkan berbagai penelitian yang dilakukan seputar asal-usul dan kronologi sebuah tangisan, disimpulkan bahwa perempuan lebih sering meneteskan air mata dibandingkan laki-laki saat menangis. Dan, ternyata hal tersebut dilatarbelakangi perbedaan sel-sel kelenjar air mata dan ukuran saluran antara perempuan dan laki-laki. Saluran air mata yang dimiliki laki-laki lebih besar daripada perempuan.

***

Saya perempuan. Tidak menyangkal sering menangis, tapi saya punya filosofi dan cara tersendiri untuk menangis.

I always like walking in the rain, so no one can see me crying.” ― Charles Chaplin,

Sedikit bercerita. Saya pernah mengatakan kepada beberapa teman dekat dan sahabat. Quote di atas adalah filosofi saya untuk urusan ‘tangis-menangis’ (apapun kasusnya, ― meskipun dalam beberapa kasus tak terbendung saya pun menangis di hadapan mereka). Orang-orang  yang  mengenal dan dekat dengan saya, mereka tahu saya adalah pengendara motor yang baik (Belakangan ini mobil juga, setidaknya taat aturan lalu lintas). Saya tidak suka menghentikan motor saya di atas zebra cross saat mengantri di traffic light. Saya tidak suka kebut-kebutan di jalan. Saya sangat menghargai pejalan kaki. Dan, saya tidak suka angkot di Bogor, apalagi Metro Mini di Jakarta (mungkin semua orang tahu alasannya).

Namun, saya punya satu kebiasaan saat mengendarai motor kala hujan, selalu membuka kaca helm yang saya pakai. Dan, selalu menutupnya saat hari cerah. Saat kaca helm dibuka itulah saya menyiapkan diri saya untuk menangis. Dan, sudah dapat dipastikan saya memohon hujan datang ketika saya sedih. Untunglah saya menghabiskan waktu selama empat tahun di Bogor, Kota Hujan. Dapat dipastikan itu tidak sulit (bukan berarti saya selalu menangis setiap hari). Memang kebiasaan yang tidak biasa, tapi itu cara saya. Perempuan biasa, sama seperti yang lain. Anda bisa temukan cara anda sendiri. Bagi saya, perempuan menangis bukan karena ia lemah, tapi ia hanya butuh waktu untuk menghimpun lebih banyak energi bagi kekuatan hatinya. Lalu bagaimana dengan lelaki?

***

“Lelaki jangan menangis, itu hanya untuk Perempuan!”

Baiklah untuk yang satu ini lagi-lagi saya beropini. Jika anda seorang perempuan, dan akan/telah melahirkan seorang anak laki-laki di dunia ini, saya sarankan tidak mengucapkan hal tersebut kepada anak anda. Menangis itu manusiawi dan hak asasi. Kembali ke teori (quote) awal, tanpa ungkapan emosi itu kita hanyalah robot. Saya tidak mengatakan ‘Jangan’ hanya ‘Sebaiknya’, karena pada dasarnya secara biologis kaum laki-laki bisa mengkamuflase tangisan mereka sendiri. Brizendine juga mengungkapkan hormon testosteron yang ada dalam tubuh mereka akan ‘mengerem’ tangisan dengan sendirinya. Dan, umumnya karena stigma sosial dalam masyarakat sudah terbentuk ‘lelaki jangan menangis’ dengan sendirinya mereka akan mengalihkan diri atau bertaktik dengan mengerutkan wajah mereka. Jadi, lebih baik tidak terucap.

***

“Heaven knows we need never be ashamed of our tears, for they are rain upon the blinding dust of earth, overlying our hard hearts. I was better after I had cried, than before–more sorry, more aware of my own ingratitude, more gentle.” ― Charles DickensGreat Expectations

Sekitar delapan tahun yang lalu, seorang kawan lama, anak laki-laki berusia hampir 15 tahun, menangis di rumahnya, di hadapan saya dan seorang sahabat. Dengan posisi telungkup, ia menangis sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Ia menangis karena harus berpisah dengan sahabatnya yang melanjutkan sekolah di Bandung. Saat itu saya benar-benar merasa kikuk. Kami datang memang ingin menghibur, tapi ternyata dua orang yang datang dengan niat mulia itu malah ikut menangis. Tidak bisa memperbaiki keadaan, kami hanya mengeluarkan helaian tissue satu per satu. Hingga ibunya datang memasuki ruangan itu, “Eh, naha (kenapa) jagoan ibu nangis? Sudah- sudah, nanti kita susul dia ya.” Kata ibunya sambil memeluk.

Itu bukan pertama kalinya saya melihat ia sedih, atau kecewa hingga matanya berkaca-kaca. Bukan juga terakhir kalinya melihat ia menangis. Saya tidak pernah menganggap ia cengeng. Bahkan, saya salut dengan keberaniannya mengungkapkan emosi, kemampuan untuk menghargai dan memberikan ruang untuk dirinya sendiri. To me, it looks gentle. Dan, untuk ibunya, manusiawi dan solutif. Someday, I’ll be proud if I could learn more from a mother like her.

***

Menangis sebagai “Self Healing”

Jangan malu menangis. Menangis itu penyembuhan diri atau yang biasa dikenal dengan istilah self healing. Jika anda stres, menangislah. Niscaya beban psikis yang anda alami akan mereda, dan anda akan merasa lebih baik. Mengapa? Karena saat anda menangis, tubuh akan mengeluarkan hormon Endorphin dan Leucine-Enkaphaline yang efeknya mirip morphin. Hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis dan hipotalamus di dasar tulang tengkorak ini akan bereaksi dan memunculkan rasa gembira, membunuh rasa sakit (natural pain killer), meredakan perasaan sedih, stres, depresi, cemas, dan sebagainya.

Banyak yang menganggap bahwa kedua hormon itulah yang menjadi penyebab stres, sehingga saat dikeluarkan dari tubuh anda merasa lebih baik. Namun, menurut sumber yang saya baca, sebetulnya pengeluaran hormon tersebut merupakan respon terhadap rasa sakit, baik fisik maupun psikis, yang kita terima. Jadi, fungsinya meredakan bukan sebagai racun penyebabnya.

Hormon itu terus diproduksi tubuh dan (justru) apabila anda menahan diri untuk menangis efeknya akan berbalik karena hormon tidak dikeluarkan. Stres yang anda rasakan akan semakin memburuk dan akan berdampak pada kesehatan fisik anda, seperti gangguan jantung dan hipertensi.

Menangis dapat mereduksi kadar mangan dalam tubuh hingga kembali normal. Tingginya kadar mangan dalam tubuh dapat memicu emosi mejadi labil, kekhawatiran berlebihan, dan perasaan yang lebih sensitif. Air mata yang keluar mengandung 24 persen protein albumin yang berfungsi membawa racun keluar dari tubuh. Jadi, tidak ada salahnya anda melepaskan tangis jika diperlukan.

Menangis menenangkan, tapi tidak menyelesaikan masalah.

Setiap orang rata-rata menghabiskan waktu untuk menangis selama enam menit (Fit Sugar dan C-Health.com). Saya rasa itu cukup. Jika anda merasa kurang, silahkan sesuaikan dengan kebutuhan, tapi jangan terlalu lama. Meskipun menangis dapat melegakan perasaan, satu hal yang sudah semestinya disadari adalah ‘menangis tidak menyelesaikan masalah’. Ada hal lain yang harus anda lakukan setelahnya. Seperti yang telah saya sebutkan di atas, menangis menjadi waktu anda mengumpulkan energi baru, menata kembali ruang di hati anda, dan merasakan sedikit efek ‘morphin’ yang mengalir dalam tubuh anda. Tapi, anda harus tetap memutuskan sesuatu. Apa yang  harus anda lakukan setelah tangisan usai.

Dalam halaman ‘Psycology Today’ disebutkan banyak penelitian yang menyebutkan menangis dapat memberikan manfaat psikologis. Sebanyak 70 persen responden dalam penelitian tersebut menyampaikan dapat melepaskan ketegangan dan merasa lega setelah menangis. Namun, dari 3.000 laporan yang dikaji tidak selamanya seperti itu. Tidak semua orang dapat merasa lebih nyaman setelah menangis. Karena pendekatan psikis yang harus dilakukan kepada setiap orang belum tentu sama. Selain itu, dukungan moril dan sosial dari orang-orang terdekat juga mempengaruhi kondisi psikis seseorang. Hal ini kembali lagi pada solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi individu tersebut. Masalah yang tidak terselesaikan justru akan menayangkan episode tangisan-tangisan baru berikutnya. Kepedulian dan keterbukaan terhadap orang-orang terdekat menjadi penting untuk mendapatkan dukungan dan mendapatkan penyelesaian masalah yang sebenarnya.

***

“Crying is all right in its own way while it lasts. But you have to stop sooner or later, and then you still have to decide what to do.” ― C.S. Lewis

Saya teringat suatu moment dimana saya mendapatkan rasa sakit secara fisik maupun psikis. Saat itu saya sedang menyelesaikan tugas akhir (skripsi) program studi S1. Lokasi penelitian saya di Penjaringan, Jakarta Utara, kawasan paling padat penduduk miskin dan rawan kriminalitas di Jakarta. Saat itu saya merasakan beban mental yang luar biasa, karena saya harus melakukan survei sendirian dan mendapatkan beberapa kendala yang dapat mengancam keselamatan saya. Selain itu, saya sempat mengalami kecelakaan ringan, dimana sebuah palang besi berdiameter 12 sentimeter mendarat tepat di atas kepala saya, dan berhasil membuat saya tidak beraktivitas setidaknya tiga hari. Sedih, pasti. Sakit, jangan ditanya lagi. Menangis, bukan sesuatu yang bisa saya hindari. Trauma, sejujurnya, YA hingga saat ini.

Tapi saya sadar itu harus tetap dijalani, terlebih ketika melihat dan mendengar ibu saya mengucap “Mama nggak bisa lihat anak susah gini,” sambil mengelus tubuh saya yang masih terbaring di atas ranjang sambil menitikan air mata. Saat itu saya berpikir ‘STOP di sini’, saya sudah menyebabkan orang lain ikut terluka dan sadar belas kasihan itu akan berakhir pada ‘pelemahan’ jiwa saya sendiri. Semenjak hari itu, dan setelah keadaan fisik membaik (setidaknya sudah bisa berjalan tegap dan lurus), saya melanjutkan penelitian saya. It wasn’t over. I won’t give up on it. Dan, Alhamdulillah, dengan bimbingan dari thesis supervisor saya, Pini Wijayanti, kerja keras itu sudah terbayar dengan terpilihnya penelitian ini sebagai 30 penelitian terbaik di European Scientific Seminar for Indonesian Student 2012 awal Juni lalu di Belanda.

***

Layaknya kebanyakan obat, menangis juga berefek samping.

Durasi menangis yang terlalu lama dapat menyebabkan sakit kepala, mata bengkak, dan mulut kering. Karena selama menangis dengan sadar anda telah mengeluarkan banyak cairan yang menyebabkan dehidrasi. Dan, ini digejalai oleh sakit kepala yang anda rasakan saat atau setelah menangis. Jika tingkat dehidrasi ini lebih parah maka mulut anda akan terasa sangat kering. Sangat dianjurkan meminum banyak air putih setelah anda menangis. Ini juga akan membuat anda sedikit rileks. Bagi anda yang mengidap sinusitis efeknya akan lebih buruk, selain lendir yang terus membanjiri hidung anda, sakit kepala dan tulang wajah di antara mata dan hidung juga akan terasa nyeri. Oleh sebab itu, janganlah menangis secara berlebihan. Seperti obat, jika terlalu banyak anda bisa overdosis.

Dikutip dari berbagai sumber.

Further Reading: Rottenberg, J., Bylsma, L. M., & Vingerhoets, A. J.J.M. (2008). Is Crying Beneficial? Current Directions in Psychological Science17, 400-404.

Blog at WordPress.com.

Up ↑