TEMPO.COJakarta –  Meningkatnya peringkat surat utang Indonesia ke tingkat BBB- atau investment grade (layak investasi)  akan memberikan dampak positif pada industri perbankan.

Ketua Perbanas, Sigit Pramono, melansir bahwa dengan status layak investasi maka akan ada kemudahan bagi perbankan di Indonesia dalam meminjam valuta asing  dari luar negeri. Menurutnya, status ini memudahkan bank mencari sumber likuiditas valas ketika terjadi tekanan atau kesulitan.

Namun, masih ada hal-hal yang harus diwaspadai. “Kita bisa gembira dengan status itu,  tapikita tidak boleh merasa berada di zona nyaman dan lengah,” ujar  ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetyantono.

Menurut Tony, ada beberapa potensi yang harus diwaspadai setelah peningkatan status layak investasi seperti peningkatan likuiditas. Likuiditas berlebih ini  perlu disalurkan ke sektor riil.

Direktur Eksekutif Indef, Ahmad Erani Yustika, melansir bahwa penilaian layak investasi  hanya melihat dari sisi makro, yakni melalui rasio  utang terhadap produk domestik bruto.

Padahal menurutnya, kesehatan perekonomian paling tepat dilihat dari kemampuan fiskal. Dan, itu dapat dilihat dari keseimbangan primer anggaran pendapatan dan belanja   Indonesia  yang trennya turun drastis dari Rp 53,7 triliun pada 2005 menjadi Rp 0,7 triliun pada 2010 atau setara 7.000 persen.

“Pemerintah harus bisa melihat bahwa ada masalah likuiditas, jangan sampai investment grade  merugikan karena likuiditas rendah,” ujar Erani.

DINA BERINA