TEMPO.COJakarta – Pengamat ekonomi Universitas Gajah Mada Tony Prasetyantono mengimbau masyarakat yang berinvestasi emas tidak perlu cemas. “Jangan panik dan jangan buru-buru menjual emas,” katanya melalui pesan pendek kepada Tempo, Rabu, 4 Januari 2012.

Banyak orang mulai panik menyusul turunnya harga emas. Seperti yang dilansir PT Aneka Tambang Tbk, harga logam mulia saat ini turun hingga di bawah Rp 500 ribu per gram, dari yang sebelumnya sekitar Rp 515 ribu.

Tony menyebutkan sejak krisis subprime mortgage 2008, harga emas mengalami reli panjang. Menurutnya harga emas tetap bisa mengalami kejenuhan sebagaimana harga minyak ataupun komoditas lain.

Tony menjelaskan bukan suatu yang mengherankan jika harga emas terkoreksi. “Wajar kalau ada koreksi harga, tidak mungkin naik terus tanpa jeda,” ujar Tony.

Dia memaparkan bahwa saat situasi ekonomi global belum ada kepastian seperti sekarang, investor global cenderung berinvestasi pada dolar Amerika. Ini yang menyebabkan dolar Amerika belakangan ini menguat. Karena itu, emas belum bisa kembali ke level tertingginya.

Menurut Tony, penurunan harga ini hanya sementara. Ke depan harga emas masih bisa bergerak naik. Namun kenaikan tetap ada batasnya. “Harga emas bukan seperti istilah ‘the sky is the limit’,” katanya.

DINA BERINA