TEMPO.COJakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan punya pendapat sendiri soal produksi mobil nasional. Menurut dia, pemerintah tak boleh latah dan terburu-buru memiliki mobil nasional tanpa didasari dengan pertimbangan matang.

Menurut Dahlan, keputusan untuk memproduksi mobil dalam negeri harus dikaji lebih dalam dalam berbagai aspek.  “Harus dikaji dulu, jangan emosional,” katanya dalam wawancaranya dengan sebuah stasiun televisi nasional di Jakarta, Selasa, 10 Januari 2012.

Dahlan menegaskan, produksi komersial, terutama seperti mobil nasional, tak hanya memperhitungkan aspek produksi, tapi juga pemasaran. “Kalau diproduksi, tapi tidak ada yang beli juga tidak akan bertahan,” ujar Dahlan. ” Kegiatan produksi juga jangan menjadi beban negara. Nilainya triliunan, jadi harus dilihat dengan seksama,”

Pun juga tak boleh tergoda, meski negara tetangga seperti Malaysia sudah melakukannya. Mobil Proton milik Malaysia, misalnya, meski terlihat baik, belum tentu secara keuntungan juga membaik. ” Kita tidak tahu seperti apa keuntungan yang didapat Malaysia dari Proton” ujarnya.” Apa benar Proton sudah untung? Atau bahkan sudah menghabiskan uang negara? Kita tidak tahu,” katanya.

Dahlan juga mengingatkan, produksi mobil, apalagi nasional, bukan semata euforia. Momentum kepemilikan mobil nasional ini diharapkan tidak hanya memanas sekarang, tapi menguap belakangan. “Harus dihitung betul bagaimana kondisi perekonomian” ujarnya. “Jangan sampai maunya bangga, malah berujung dihina karena tidak laku di pasar,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Solo Joko Widodo pada kesempatan yang sama menyampaikan dukungannya terhadap industri mobil dalam negeri. “Mimpi kita jadi industri manufaktur besar berbasis industri rumahan (home industry),” katanya.

Jokowi berpendapat semua bisa terkoordinasi dengan baik dengan dukungan dari pemerintah. Dia juga tidak ingin perbedaan pendapat ini meredupkan semangat industri rumahan ini. “Jangan sampai mematahkan semangat lah,” katanya.

DINA BERINA