TEMPO.COJakarta – Pertumbuhan kartu kredit diperkirakan bakal menurun seiring dengan rencana Bank Indonesia menetapkan batasan penghasilan nasabah. Tahun ini kartu kredit diperkirakan hanya tumbuh 10-15 persen. “Tahun depan bakal lebih rendah lagi,” ujar General Manager Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI), Steve Marta, Kamis, 12 Januari 2012.

Meski terjadi penurunan pertumbuhan, kata dia, dari sisi transaksi belum tentu ikut turun. Hal ini dikarenakan semakin luasnya penggunaan kartu kredit. “Beli bensin saja bisa pakai kartu kredit.”

Peraturan Bank Indonesia (PBI) nomor 14/2/PBI/2012 sebagai revisi dari PBI nomor 11/11/PBI/2009 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu (APMK) yang ditargetkan efektif mulai 1 Januari 2013 dengan masa transisi dua tahun.

Peraturan tersebut menyebutkan bahwa bank hanya boleh memberikan pinjaman kartu kredit kepada nasabah yang memiliki pendapatan minimal Rp 3 juta. Nasabah yang pendapatan per bulannya antara Rp 3 hingga Rp 10 juta hanya diberikan plafon pinjaman tiga kali besar pendapatannya. Selain itu, nasabah hanya diperbolehkan memiliki kartu kredit maksimal dari dua penerbit.

Menurut Steve, ketentuan bari ini memberikan manfaat bagi bank, karena akan menurunkan tingkat kredit bermasalah (NPL).

Tapi, kata dia, dari sisi pendapatan bakal menurunkan penerimaan bank dari kartu kredit. Sebab menerbitkan kartu kredit, bank harus bekerja sama denga pihak lain dengan komitmen pembayaran tertentu. Selain itu, masih ada biaya-biaya lain yang berkaitan dengan pemasaran kartu kredit. “Pembayaran sudah ditetapkan, tapi jumlah kartu turun, ini potensi penurunan pendapatan.”

Saat ini pihaknya berencana merundingkan teknis transisi penerapan aturan tersebut bersama Bank Indonesia. Menurut Steve, diperlukan infrastruktur khusus untuk membantu masa transisi ini. Untuk mencapai waktu yang telah ditargetkan BI, Steve belum bisa optimis. “Belum bisa dipastikan, tapi akan tetap dijalankan ke arah sana.”

DINA BERINA