Mungkin belum banyak individu yang mengenal Cikangkung sebagai wilayah yang memiliki potensi yang luar biasa terutama pada sektor wisata. Desa Cikangkung yang terletak di pesisir Kabupaten Sukabumi ini memiliki wilayah pantai yang masih perawan atau belum banyak terjamah manusia. Akses menuju kawasan inti sektor wisata desa ini memang belum cukup baik, namun bagi anda yang memiliki jiwa petualang hal ini menjadi kelebihan tersendiri.

Karena biaya sewa tempat tinggalnya jauh lebih murah dibandingkan desa lainnya yang terletak bersebelahan dan lebih eksis dari pada desa ini (sebut saja Ujung Genteng). Untuk home stay anda dapat menyewa rumah dengan harga mulai Rp 300.000,00/bulan, satu rumah bisa menampung hingga sepuluh orang. Harga sesuai lama tinggal dan fasilitas yang tersedia, jadi lebih baik anda negosiasikan lebih dulu.

Bagaimana cara menuju Cikangkung dan berapa ongkosnya?

Ongkos perjalanan relatif, tergantung dari mana anda memulai perjalanan.  Saya memulai perjalanan dari Terminal Baranangsiang, Kota Bogor. Perjalanan dari Bogor juga terdiri dari berbagai pilihan, pilihan yang kami sarankan yaitu (Harga per Juni 2010):

Pilihan I

Berangkat dengan menggunakan bus kecil MGI Bogor-Surade (Rp 35.000,00), sampai di Terminal Surade lanjutkan dengan angkutan umum warna merah jurusan Ujung Genteng, turun di Cijoho tepat di depan jalan menuju Desa Cikangkung (Rp 5.000). Total biaya perjalanan Rp 40.000,00.

Pilihan II

Berangkat dengan menggunakan Colt L300 Bogor-Sukabumi (Rp 12.000,00), sampai di Terminal Degung (Sukabumi)  lanjutkan dengan angkutan umum warna kuning jurusan Lembur Situ (Rp 5.000,00). Sampai di Lembur Situ lanjutkan lagi perjalanan dengan ELF jurusan Cikangkung (Rp 22.000,00) dan turun di depan kantor Desa Cikangkung. Total biaya perjalanan Rp 39.000,00.

Bagaimana dengan biaya makan atau konsumsi?

Anda akan jarang melihat warung nasi dan semacamnya di desa ini, tapi tenang saja warga di sana siap memasak makanan untuk anda dengan biaya sekitar Rp 7-10 ribu sekali makan/orang. Jadi tinggal negosiasi saja. Jika anda kesulitan dalam mencari masyarakat tersebut, serahkan saja reservasi kecil-kecilan ini pada tour guide*) yang anda pilih.

Kalau mau jalan-jalan, bagaimana transportasinya?

Karena di Kecamatan Ciracap jarang sekali alat transportasi umumnya, jadi disarankan menyewa kendaraan milik warga. Motor Rp 30.000,00/hari. Angkutan umum atau Colt Bak Sekitar Rp 200.000,00/hari.

Sangat disarankan menggunakan guide, biayanya cukup murah dan bisa negosiasi.

Batu Lanyam

Kawasan ini belum menjadi objek wisata yang dicari orang. Karena memang belum diperuntukan dan diprioritaskan sebagai kawasan wisata. Terlebih belum memadainya akses menuju lokasi.

Batu Lanyam terletak 3 KM dari Desa Cikangkung. Setelah menempuh jalan aspal sejauh 2,3 KM, anda harus menempuh jalur off road untuk tiba di lokasi. Tentunya dengan kendaraan sewaan (motor). Sebetulnya anda bisa saja menggunakan angkutan umum dari daerah Cijoho, Desa Cikangkung, sampai di depan jalan/gang berlumpur tersebut. Hanya saja angkutan umum di daerah ini hanya lewat dua jam sekali.

Medan yang harus dilewati untuk mencapai lokasi ini memang agak sulit. Anda harus menggunakan kendaraan di jalan tanah dan terdapat kubangan-kubangan yang cukup dalam. Jalannya pun tidak rata, anda mau tidak mau melewati bekas ‘track’ truk pengangkut gula dengan kontur tanah yang lembek. Jika membawa motor atau kendaraan terasa sulit, anda bisa menitipkan kendaraan di pemukiman para penyadap gula kelapa yang berada sekitar 100 Meter dari depan gang dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

Perjuangan belum selesai. Setelah melalui jalan tanah tersebut, anda masih harus melalui semak pandan berduri yang tinggi tanamannya mencapai 2-3 Meter sejauh 20 Meter. Selepas dari semak pandan berduri itu anda akan langsung tiba di batu tebing yang menjorok ke laut. Tebing tersebutlah yang dinamakan Batu Lanyam.

Pemandangan dari Batu Lanyam sangat luar biasa. Terutama bagi anda yang hobi ‘Nyunset’ (menyaksikan sunset, bahasa akrab masyarakat setempat). Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di gambar.

Amanda Ratu

Sebetulnya lokasi wisata yang satu ini berada di desa sebelah (Purwasedar). Namun, letaknya lebih dekat dari Desa Cikangkung (5 KM) dibandingkan dari pusat Desa Purwasedar. Amanda Ratu merupakan kompleks cottage yang disewakan. Namun, kita tetap bisa menikmati pemandangan muara sungai yang terdapat di sana hanya dengan membayar parkir kendaraan senilai Rp 2.000,00. Tidak ada tiket dan biaya lainnya selain parkir, kecuali jika anda menggunakan fasilitas seperti kolam renang (Rp 5.000,00 per orang) dan karaoke (Rp 60.000,00 per jam).

Biasanya pengunjung datang untuk piknik dan menikmati pemandangan pertemuan muara sungai dan laut dari taman yang tertata rapi di tepi tebing. Tidak jarang pengunjung yang datang membawa tikar dan rantang untuk bersantai bersama keluarga.

Bagi anda yang berminat bermalam di sana, anda bisa menyewa cottage dengan harga per malam berkisar antara 1 hingga 3 juta rupiah per malam. Bagi anda yang low budget bisa mengikuti tips backpacker/home stay.

Pantai Ujung Genteng

Pantai yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi para traveller maupun backpacker. Ujung Genteng merupakan desa yang terletak sekitar 8 KM dari desa Cikangkung dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit.

Perjalanan dapat ditempuh dengan cepat karena kondisi jalan di wilayah ini cenderung baik dan sangat sepi kendaraan, jadi anda dijamin tidak akan bosan dan lelah di jalan karena macet.

Ujung genteng terbagi menjadi beberapa spot. Setelah anda sampai dipertigaan yang membagi tiga arah perjalanan anda bisa memilih yang mana saja. Perbedaannya, jika anda mengambil jalan lurus anda akan menemukan sebuah bangunan yang sudah hancur, yang konon pernah menjadi pelabuhan kapal jaman penjajahan dulu. Anda bisa naik ke atas bangunan tersebut dan merasakan hembusan angin laut yang cukup besar. Anda juga akan sering melihat anak-anak nelayan yang sedang bermain air sambil menangkap ikan-ikan kecil di sekitar bangunan ini.

Jika anda mengambil jalan ke arah kiri anda akan menemukan desa nelayan yang berbatasan dengan hutan. Lokasi ini masih didiami dan dijadikan lokasi diklatsar Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), dan konon sesekali menimbulkan konflik sengketa tanah dengan masyarakat setempat. Beberapa orang juga percaya masih terdapat ranjau (bom tanam) yang masih aktif di dalam hutan sisa zaman penjajahan dulu. Tetapi ada juga masyarakat yang menganggap itu hanya ‘akal-akalan’ AURI agar dapat ‘membersihkan’ masyarakat yang tinggal di sana.

Terlepas dari itu semua pemandangan di kawasan ini sangat indah, ditambah dengan keramahan para nelayan dan penduduk sekitar. Anda bisa menyusuri pantai hingga ke ujung hutan. Namun, sangat disayangkan dari pantai-pantai yang kami kunjungi pantai ini paling banyak sampah anorganiknya seperti plastik dan styrofoam sisa pengepakan ikan.

Lain cerita jika anda melanjutkan perjalanan ke arah kanan, anda akan melihat berbagai penginapan mulai dari losmen hingga cottage. Meskipun jumlahnya lumayan banyak dan dengan berbagai tingkatan harga, jumlahnya tidak sebanyak pada kawasan wisata yang lebih berkembang seperti Pantai Anyer di Banten atau Pantai Kuta yang ada di Pulau Bali. Penginapan di sini cenderung berkisar antara Rp 150.000,- hingga Rp 1.200.000,- tapi bagi anda yang ingin berwisata low budget tidak perlu khawatir karena anda bisa sewa rumah penduduk atau home stay bersama mereka (akan ada bahasan lebih lanjut pada posting lain). Setelah melewati berbagai penginapan anda akan melewati pantai karang. Pantai ini sangat disayangkan jika dilewatkan. Selain karangnya yang eksotik, pantainya yang bersih, pemandangan bawah airnya juga sangat indah. Bahkan menurut kami, pantai ini merupakan bagian yang paling indah dan bersih di kawasan Ujung Genteng -meskipun jalan menuju ke pantai ini agak sulit karena banyak kubangan.

Tambak Udang Cikodehel

Jika anda hendak berwisata ke wilayah Ujung Genteng dan sekitarnya (tentunya dari Desa Cikangkung). Sempatkan mampir ke tambak udang yang terletak sekitar 4 KM dari Desa Cikangkung. Tambak ini ada di sebelah kiri jalan (menuju pesisir). Tambak udang ini sangat luas dan memiliki pemandangan yang sangat disayangkan jika dilewatkan (terutama bagi anda yang suka foto-foto, -narsis, red). Terlebih jika anda beruntung dan datang pada saat musim panen. Terkadang pemilik atau penjaga tambak memberikan udangnya secara gratis (walau tidak banyak).

Pantai Cikelewung

Anda tak perlu khawatir dengan medan yang harus ditempuh, karena saya jamin setelah anda melihat pemandangan di tembusan jalan setapak itu, anda akan terkesima dan kegirangan. Ya! Indah sekali. Pemandangan pertama yang akan anda lihat adalah pantai dengan batu koral berlumut. Kontur batunya unik dan bagus untuk menjadi objek atau background foto, tapi sekali lagi anda harus hati-hati karena licin.

Perjalanan belum selesai, bagi anda yang berminat memasak di pinggir pantai ada spot yang bagus untuk dikunjungi. Anda harus berjalan kaki melewati pasir pantai yang sangat halus dan empuk sekitar 200 meter lagi. Pantai ini tergolong virgin sehingga tidak heran kalau sangat sepi, bersih, dan memiliki struktur pasir yang baik karena sangat jarang dijamah orang.

Kembali ke spot ‘masak-masak’, spot yang saya maksud adalah batu tebing setinggi kurang lebih 20 Meter yang memiliki rongga di bawahnya. Sangat pas untuk lokasi ‘ngariung’ di tengah terik matahari. Jika anda dating di sore hari dan matahari tidak terlalu terik, anda bisa berpiknik ria di atas batu koral yang menjorok ke arah laut. Ini juga sangat direkomendasikan! Anda bisa menyantap bekal dan makanan yang anda masak tadi didampingi deburan ombak dan angin laut. Mantab! Tapi jangan lupa sampahnya dibawa pulang lagi ya.

Pantai Pangumbahan

Banyak jasa wisata yang ditawarkan di pantai ini, mulai dari surfing, melepas tukik (anak penyu), dan long march tengah malam untuk mencari penyu yang sedang bertelur. Maklum saja, kawasan ini sudah dijadikan kawasan konservasi penyu.

Pantai ini terbagi menjadi beberapa spot. Spot surfing misalnya, ombaknya sudah pasti tinggi dan biasanya terdapat banyak turis asing di sana, kebanyakan dari mereka berasal dari Australia.

Wisata yang paling diminati adalah melepaskan tukik, jumlah wisatawan biasanya melonjak saat weekend. Pengunjung dapat berpartisipasi melepaskan tukik yang jumlahnya mencapai 200 ekor per hari secara GRATIS. Pelepasan tukik ini dilakukan setiap hari sekitar pukul 17.00-18.00 WIB. Jika anda datang bukan pada hari libur (weekday), anda bisa saja beruntung mendapatkan kesempatan untuk melepas tukik secara ekslusif karena sepi pengunjung.

Lain halnya dengan long march untuk mencari penyu yang akan bertelur, wisata ini dilaksanakan malam hari. Perjalanan dimulai paling cepat pukul 23.00 WIB, hal ini disebabkan penyu yang akan bertelur naik ke darat hanya pada waktu tengah malam. Anda akan ditemani guide dari pusat konservasi, dan diharuskan membayar Rp 5.000,00. Bayaran tersebut relatif murah jika dibandingkan dengan pengalaman bertemu penyu yang kini menjadi amphibi yang semakin langka dan dilindungi itu.

Informasi lebih lanjut, pemesanan home stay, dan guide hubungi* :

Komarudin (Omay) : 085724222574

Dadang (Poldes)       : 085721062229

*Recommended Tour Guide (warga setempat dan sangat friendly)

Selamat mencoba🙂