Belajar sambil berwisata, ini tujuan saya datang ke Kampung Inggris atau Kampung Bahasa di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Termasuk wisata kuliner. Ngomong-ngomong soal kuliner di Pare, sebelumnya saya sempat membaca soal sate bekicot di salah satu tulisan senior saya, Muhamad Iqbal, sesama alumni Koran Kampus IPB, di Backpackin’ Magazine vol. 13.

Penasaran! Ya begitulah. Untuk memenuhi rasa penasaran saya soal sate bekicot, saya menempuh jarak yang cukup jauh dari camp tempat tinggal saya, Mahesa Princess Camp 4, ke alun-alun Kota Pare. Entah berapa kilometer, kalau tidak salah jarak tempuhnya sekitar 30 menit bersepeda (di sini kendaraan utama member kursusan adalah sepeda).

Tepat di malam minggu, dapat dipastikan alun-alun ramai dipenuhi warga Pare dan pendatang. Menurut salah satu rekan saya, sebut saja ‘Nonong’, perempuan sebaya saya asal Kalimantan Barat yang telah menetap di Pare sejak Januari 2012 lalu, biasanya alun-alun dipenuhi member kursusan di hari Sabtu dan Minggu pagi. Karena umumnya member kursusan hanya memiliki libur di kedua hari tersebut.

Kembali ke sate bekicot, saya menghampiri seorang penjual sate bekicot di tepi jalan persis di alun-alun, tidak jauh dari kantor pos dan tugu. Seorang ibu separuh baya mejajakan dagangannya. Tidak hanya sate bekicot, tapi juga ada sate telur puyuh, sate ati ampela, dan sate usus ayam. Namun sate bekicotlah yang menjadi menu utama.

Saya membeli seporsi kecil (10 tusuk) dengan harga Rp  3 ribu. Sate disajikan dengan saus kacang. Tapi lebih mirip saus batagor atau siomay dari pada sate madura (apalagi sate padang). Sebagian orang mungkin merasa jijik, tapi entah mengapa rasa penasaran mengalahkan segalanya malam itu termasuk rasa jijik. Satu tusuk pertama, saya masih belum bisa mendeskripsikan rasanya. Tusukan kedua, mendeskripsikan rasa tawar. Tusukan ketiga (terakhir), mendeskripsikan rasa asam dan pahit.

Awalnya,  saya membayangkan rasa gurih macam sate usus atau kerang rebus. Ternyata beda. Dan akhirnya, saya tidak sanggup menghabiskan semuanya. Karena niat dari awal cuma ingin mencoba. Tidak untuk jadi lauk untuk menjadi teman makan malam saya. Begitu pun dengan Nonong, dia tidak sanggup menghabiskan sate bekicot yang ia beli. Mungkin ini soal selera, lidah kami belum terbiasa atau memang tidak bisa menerima sate tersebut.

Lain cerita saat kami hendak makan siang di salah satu warung nasi di Jl. Dahlia, saya lupa namanya apa. Tapi yang saya ingat letaknya bersebelahan dengan kursusan Brata dan berhadapan dengan kursusan Acces-es. Warung makan ini menyediakan makanan secara prasmanan. Saat sedang memilih lauk yang akan saya makan, saya menemukan makanan sejenis bekicot atau mungkin sama (ini cuma soal istilah).

Penasaran, saya beli. Saya tanya ke ibu penjualnya, “Apa ini bu?” dan dengan singkat ia menyebutkan kata yang berbunyi “Qul”. Setelah menanyakan beberapa kali, ternyata yang barusan saya beli itu adalah keong sawah.

Kalau dilihat sepintas memang bentuknya mirip, tapi agak bulat. Saya cicipi. Kali ini rasanya lebih baik. Mungkin karena bumbu dan cara masak yang berbeda. Kali ini Qul dimasak dengan rempah layaknya rendang basah atau tumisan kari pedas. Tapi, menurut saya rasa original dari lauk yang saya makan ini ‘plain’ atau tawar. Tidak seperti kerang dara atau kerang hijau yang memiliki rasa yang khas. Belum bisa menyimpulkan sendiri, saya minta Nonong mencobanya. Dan, ia pun berbendapat sama. Ikut penasaran? Silahkan coba sendiri.😀

DINA BERINA