Kendaraan yang paling banyak digunakan member kursusan di kampung inggris adalah sepeda. Banyak sekali tempat penyewaan sepeda di sini. Bahkan ada camp atau kosan yang sudah menyediakan sepeda untuk disewakan. Jadi, kalau menjadi member di camp itu, anda wajib menyewa sepedanya juga. Misalnya, Brata Institute.

Harga sewa sepeda di sini berkisar antara Rp 45-60 ribu per bulan atau Rp 100 ribu untuk Fixie, semua tergantung kelihaian anda dalam menawar. Kalau saya pakai strategi SKSD (Sok Kenal Sok Deket), sok asik saja sama abang rentalnya. Karena sepeda yang saya pakai kondisinya masih bagus dan baru diservis rutin, saya kena harga paling mahal Rp 60 ribu. Tapi saya tidak terima begitu saja. Saya minta potongan harga kalau saya perpanjang sewa sepedanya. Dan betul, di bulan berikutnya saya hanya membayar Rp 50 ribu. (Dan, saya akan minta potongan lagi untuk bulan depan :P).

Biasanya persewaan sepeda memberikan waktu garansi sampai 3 hari. Kalau ada yang tidak beres dengan sepedanya, kita bisa minta servis gratis atau menukarnya. Tapi, kalau sudah lebih dari waktu yang telah ditentukan, biaya servis ditanggung penyewa.

Banyak hal yang harus diperhatikan sebelum memilih sepeda. Cek dulu keamanan sepeda untuk kenyamanan anda saat berkendara. Misalnya, angin ban, kebisingan saat dikayuh, kondisi pedal, kondisi rantai, dan yang paling penting adalah REM. Banyak sekali kecelakan besar maupun kecil yang terjadi di Kampung Inggris akibat rem sepeda tidak bekerja semestinya alias ‘blong’.

Dan, saya mengalaminya sendiri. Saya sempat menabrak sesama pengendara sepeda yang pada saat itu ngebut dan rem sepedanya sama sekali tidak berfungsi. Hari sebelumnya saya memasukkan sepeda saya ke bengkel untuk diperiksa karena bannya tidak stabil. Selama sepeda diperbaiki saya dipinjami sepeda yang lain. Sebetulnya, remnya bekerja, tapi tidak terlalu baik.

Hari itu saya terburu-buru karena ada ujian di kursusan lain. Saya mengendarai sepeda dengan cepat dari kursusan The Daffodils menuju Mr.BOB. Saat saya melaju cepat di depan kursusan Kresna, tiba-tiba seorang pengendara sepeda muncul dari sebuah gang dengan kecepatan tinggi. “DDUUAARRR!!?!” dan terjadilah kecelakaan itu. Saya baik-baik saja. Utuh luar biasa, termasuk sepeda pinjaman yang  saya pakai. Tapi tidak dengan orang yang saya tabrak, dia jatuh dan kakinya memar. Terlebih lagi, rodanya rusak dan berubah bentuk seperti huruf ‘U’.

Setelah kami berbicara satu sama lain, dia juga mengaku salah. Ternyata sepedanya tidak ada remnya. Jadi, kami mengaku sama-sama salah dan menyelesaikan secara kekeluargaan dengan membawa sepeda itu ke bengkel.

Mungkin bagi sebagian orang, kondisi sepeda itu sepele. Tapi, kalau sudah terjadi hal yang tidak diharapkan barulah terasa betapa pentingnya memerhatikan kondisi sepeda yang kita pakai.

Lain lagi kalau soal keamanan secara sosial. Member kursusan di Kampung Inggris ini ‘diwanti-wanti’ untuk mengunci sepeda masing-masing saat sedang tidak digunakan, serta tidak meletakan tas dan benda berharga di keranjang sepeda selama perjalanan. Tidak bermaksud medeskriditkan desa ini. Tapi, menurut salah seorang tutor di salah satu kursusan terbesar di kampung ini, sudah beberapa kali terjadi penjambretan karena pengendara sepeda meletakan tasnya di dalam keranjang sepeda. Selain itu, pelaku juga suka iseng dengan menyentuh bagian tubuh (perempuan), semacam pelecehan seksual gitu lah.

Tidak perlu terlalu dikhawatirkan, cukup diwaspadai dengan tidak memancing kejahatan itu. Jangan pernah meletakan tas dan benda berharga di keranjang, serta pakailah busana yang sopan (lengkap dengan masker, kaos kaki, dan sarung tangan, karena udara di sini panas menyengat).