Simpang Lima Gumul, Kediri.

Sebagai orang yang ingin fokus mempelajari bahasa inggris, umumnya hal yang paling giat dilakukan adalah mencari informasi mengenai tempat kursus maupun lokasi belajar yang kondusif. Biasanya info tersebut diperoleh melalui mulut lewat mulut (yang biasa saya singkat MLM) atau media online dan social network.

Jika anda termasuk ‘pencari’ informasi tersebut, mungkin saya bisa memberikan sedikit cerita dan solusi bagi anda. Kebetulan ini adalah bulan terakhir saya di sebuah desa bernama Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, tepatnya di ‘Kampung Bahasa’ atau yang biasa dikenal ‘Kampung Inggris’.

Untuk anda yang mau belajar di sini, coba gali informasi dari orang terdekat atau rekan yang pernah ke Kampung Inggris. Biasanya informasinya lebih akurat dibandingkan media online mana pun. Ada beberapa hal yang ingin saya ungkapkan terkait kehidupan di desa ini seobjektif mungkin.

Mungkin sudah anda ketahui dari media atau web page yang lain, tapi sebagai prolog saya merasa hal ini penting untuk disampaikan. Pertama, umumnya berdasarkan durasi atau masa pendidikan, kursusan terdiri dari dua jenis program, yaitu program dua mingguan dan program satu bulan. Mengenai jenis dan jadwal program, kita pilih sendiri sesuai opsi yang diberikan kursusan. Ada juga yang sudah sepaket, biasanya program yang kaitannya dengan grammar, seperti di ELFAST, Kresna, BEC, HEC, dan lain sebagainya. Durasinya beragam, antara 1-6 bulan.

Kedua, seperti cerita yang sudah saya kisahkan sebelumnya, kendaraan utama member kursusan di sini adalah sepeda. Untuk lebih detailnya anda bisa baca postingan saya sebelumnya. Kendaraan lain yang umumnya digunakan adalah ‘odong-odong’, sejenis kereta wisata sewaan yang biasanya ditumpangi kalau member ingin berkunjung ke lokasi wisata di sekitar Pare-Kediri, ongkos sewanya Rp 15.000 per orang.

Ketiga, soal makanan. Mungkin bagi anda yang berasal dari kota besar atau luar Pulau Jawa, makanan di sini termasuk murah, seperti pecel ayam (Rp 5 ribu), sate (Rp 5-10 ribu), pecel pincuk (Rp 4 ribu). Tapi, bagi saya yang pernah menetap di Bogor selama 4 tahun, harga tersebut biasa saja alias ‘gak murah-murah banget’. Kalau soal rasa relatif, banyak juga member yang kurang sreg dengan makanan di sini lantaran rasanya cenderung manis.

Nah, sekarang saya mau menceritakan fakta singkat soal ‘Kampung Inggris’ ini. Tidak bermaksud mengurangi nilai jual desa ini, tapi saya mau menyampaikan opini saya seobjektif mungkin yang saya bisa. Kenapa? Karena saya tidak mau pembaca blog saya berekspektasi secara berlebihan mengenai tempat ini, sehingga bisa mempertimbangkan secara objektif sesuai berbagai referensi yang sudah diperoleh selama pencarian informasi. Apa urusan saya? Tidak ada, hanya ingin memberi sedikit pandangan berdasarkan bincang-bincang yang telah saya lakukan dengan beberapa orang dan informasi lain yang saya dapatkan dari tutor kursus dan ‘native’ di sini. Apa betul…

1. Semua orang di desa ini sudah mahir bercakap dalam bahasa inggris bahkan sampai pedagang kelilingnya?

TIDAK. Banyak isu yang beredar kalau masyarakat asli Kampung Inggris mahir berbahasa inggris, faktanya tidak. Member hanya efektif berbahasa inggris di kelas atau camp (kost-kostan english area).

2. Biaya pendidikan secara umum di desa ini murah?

RELATIF. Kalau biaya kursusnya memang cukup murah, normalnya berkisar antara Rp 35-175 ribu. Namun, ada juga yang lebih dari Rp 1 juta. Pertimbangkan pula untuk biaya kursus yang di luar budget anda, perhitungkan outputnya nanti, sesuai usaha dan dana yag dikeluarkan apa tidak. Karena, jika dilihat secara menyeluruh tidak hanya biaya kursus yang anda keluarkan, tapi juga biaya hidup dan transportasi yang anda keluarkan untuk belajar di desa ini. Di sini biaya hidup relatif murah, mungkin dengan rata-rata biaya hidup Rp 1,5 juta anda sudah bisa mengambil beberapa program, biaya makan dan sewa sepeda, serta jasa laundry dan rekreasi. Tapi, perlu diketahui juga, kadang kata ‘murah’ itu justru membuat anda lebih boros tanpa disadari, alias mendadak punya hobi belanja sana-sini.

3. Desa ini menjadi tempat ‘pelarian’ banyak orang dari masalah yang dihadapi atau sebagai lokasi untuk menata kembali impian dan kehidupan?

YA. Kalau menurut tutor saya (salah satu tutor terbaik di Kampung Inggris), Kampung Inggris is a ‘dream land’. “Segeralah bangun!” katanya. Kenapa? Menurut wawancara yang telah saya lakukan dengan sebagian besar orang yang saya temui di desa ini, mereka ke sini untuk menata kembali kehidupan mereka setelah ‘patah hati’ karena belum berhasil meraih cita-cita, ada juga yang sedang mengatur strategi hidup untuk mencapai masa depan yang lebih baik, dan ada pula yang kabur dari rumah untuk menghindari tendensi orang-orang yang mengecilkan hati mereka untuk mencapai impian (sekali pun orang tua), tapi banyak juga orang yang memang bertujuan untuk belajar, termasuk memenuhi standar melanjutkan studi di luar negeri (TOEFL/IELTS). Semua tujuannya sama, menambah ilmu dan mengisi waktu luang dengan sesuatu yang bermanfaat.

4.  Kurikulum belajar di sini beda, dan lebih efektif?

YA. Kalau kursusan pada umumnya mengintegrasikan kurikulum. Kalau di sini agak bereda. Bahkan untuk kelas grammar, sampai dibuat ‘level’ dengan pembahasan yang lebih mendalam. Bahkan ada juga yang menyediakan program ‘writing’ (Elfast dan Global English) dan Translation untuk aplikasi dari berbagai materi grammar yang telah diberikan.  Begitu pun kelas speaking, disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya, yang belum percaya diri untuk ‘ngobrol’ dalam berbahasa inggris, bisa pilih kursusan dan program yang bertujuan untuk meningkatkan percaya diri. Kalau sudah percaya diri tapi pendengaran belum terbiasa dengan kata-kata yang keluar dari native asli Amerika atau Inggris, bisa pilih program yang ‘kuat’ di listening. Atau, kalau anda sudah lebih ‘Pro’ bisa ambil Public Speaking (The Daffodils) dan Profesional Communication (Elfast), atau program lain yang selevel dengan program ini di kursusan lainnya. Tapi, perlu diingat, semua ini percuma kalau anda tidak banyak latihan dan belajar secara independen di luar kelas. Suasana di sini kondusif untuk belajar bahasa inggris, dan tidak perlu malu untuk memulai percakapan dalam bahasa inggris. Beberapa kursusan juga menyediakan native dari Amerika untuk melatih kemampuan speaking dan listening anda.

5. Bisa belajar berbagai kultur masyarakat Indonesia dan memperluas koneksi di sini?

YA. Beragam suku ada di sini, meskipun yang mendominasi (setelah suku Jawa) adalah Makasar. Tapi, di sini anda bisa membangun dan menjalin relasi dengan masyarakat dari berbagai daerah. Di sini saya sudah berteman dengan orang-orang dari Aceh sampai Papua, mulai dari TKI sampai aktivis NGO UNFP. Sangat beragam.

6. Banyak yang ‘cinta lokasi’ di desa ini?

YA. Menurut sebagian besar responden saya, banyak yang menemui ‘jodoh’nya di desa ini, yang akhirnya menikah juga banyak. Nah, itu yang beruntung, menurut pandangan saya, tidak semudah itu mempercayai orang di sini dalam konteks ‘pasangan hidup’. Berdasarkan, berbagai narasumber yang saya wawancarai, konteks ‘pacaran’ di sini adalah ‘short-term relationship’ alias buat menghilangkan kesepian selama ada di sini saja. Bahkan, ada yang tertimpa ‘sial’ alias didatangi istri pacarnya (alias dilabrak). Mengapa terjadi? Bagaimana pun sulit untuk mengetahui latar belakang seseorang yang sebenarnya selama anda di sini (termasuk soal status pernikahan, pekerjaan, dll). Tidak semuanya seperti itu, hanya sebagian kecil. Tapi, mencegah lebih baik dari pada mengobati, bukan?

7. Desa ini desa tertinggal yang fasilitas publiknya masih terbelakang?

TIDAK. Bagi anda yang tinggal di kota besar, termasuk JAKARTA, perlu anda ketahui meskipun namanya Kampung Inggris, tapi ini bukan desa pedalaman tanpa akses publik. Desa ini dialiri listrik, banyak warnet, bank dan ATM, rumah sakit, restauran, warung nasi + wifi, kantor pos, hotel, dan lain-lain. Tidak perlu khawatir, anda bisa hidup di sini. Kenapa ada poin ini? Karena saya suka ‘gatel’ kalau ada anak ‘KOTA’ yang pas dateng ke sini dan bilang “Gw kira di sini terisolasi gitu”.

So, sekarang sudah ada gambaran mengenai desa ini? Kehidupan biasa, dengan tujuan yang sama, belajar. Jangan berekspektasi secara berlebihan dan percaya dengan media (mungkin termasuk hasil survei saya). Jadi, usahakan anda mendapat informasi dari seseorang yang pernah mampir ke sini. Tapi, tidak dengan ‘polesan’ cantik yang kurang objektif.

INFO MENUJU KAMPUNG INGGRIS