“Do not apologize for crying. Without this emotion, we are only robots.”
― Elizabeth GilbertEat, Pray, Love

Menangis sudah menjadi hal yang lumrah saat seseorang tidak dapat membendung perasaan yang meluap di hatinya. Umumnya disebabkan oleh kesedihan dan kekecewaan yang mereka terima. Hal tersebut sesuai dengan pengertiannya secara etimologi, menangis memiliki kata dasar tangis yang bermakna ungkapan rasa sedih (kecewa, menyesal, dan sebagainya) dengan mencucurkan air mata dan mengeluarkan suara. Namun, ada kalanya seseorang meneteskan air mata, saat ia merasa bahagia dan begitu mensyukuri berkah dan rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Percayalah, tertawa itu spontan tapi menangis butuh proses.

Jika dilihat dari sisi prosesnya, tertawa itu lebih mudah dari pada menangis. Sedikit lelucon sudah bisa menggerakan otot dan garis senyum anda. Sebaliknya, menangis membutuhkan proses yang lebih kompleks. Stimulannya tidak sembarangan, benar-benar perlu dicerna hingga bisa dirasakan dan diekspresikan melalui tetes air mata. Bahkan, sebagian orang menahannya dengan berbagai alasan dan motivasi (malu, gengsi, dan sebagainya).

Menurut Brizendine, penulis buku ‘The Female Brain’, kondisi sosial sangat mempengaruhi individu bertahan untuk tidak menangis. Dan, isak tangis merupakan bentuk respon spontan tubuh dalam menahan tangis. Prosesnya seperti ini, saat tubuh menerima sakit secara fisik atau kesedihan secara emosional (frustasi), sistem limbik atau ‘otak emosional’ akan merangsang sinyal yang kemudian diantarkan ke dalam strip motor frontal. Dampaknya adalah nafas yang terisak-isak.

Menangis juga diidentikan dengan perempuan.

Konon karena perempuan memiliki perasaan yang lembut dan lebih mudah tersentuh. Bahkan kadang diidentikan dengan kelemahan, disamaartikan dengan ketidakberdayaan, dan hal sejenisnya. Namun, terlalu subyektif rasanya jika hanya melihat cara pandang sosialnya. Tuhan memang menciptakan ‘spare part’ yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan, ―tentunya tidak untuk keperluan reproduksi saja. Perlu diketahui juga, berdasarkan berbagai penelitian yang dilakukan seputar asal-usul dan kronologi sebuah tangisan, disimpulkan bahwa perempuan lebih sering meneteskan air mata dibandingkan laki-laki saat menangis. Dan, ternyata hal tersebut dilatarbelakangi perbedaan sel-sel kelenjar air mata dan ukuran saluran antara perempuan dan laki-laki. Saluran air mata yang dimiliki laki-laki lebih besar daripada perempuan.

***

Saya perempuan. Tidak menyangkal sering menangis, tapi saya punya filosofi dan cara tersendiri untuk menangis.

I always like walking in the rain, so no one can see me crying.” ― Charles Chaplin,

Sedikit bercerita. Saya pernah mengatakan kepada beberapa teman dekat dan sahabat. Quote di atas adalah filosofi saya untuk urusan ‘tangis-menangis’ (apapun kasusnya, ― meskipun dalam beberapa kasus tak terbendung saya pun menangis di hadapan mereka). Orang-orang  yang  mengenal dan dekat dengan saya, mereka tahu saya adalah pengendara motor yang baik (Belakangan ini mobil juga, setidaknya taat aturan lalu lintas). Saya tidak suka menghentikan motor saya di atas zebra cross saat mengantri di traffic light. Saya tidak suka kebut-kebutan di jalan. Saya sangat menghargai pejalan kaki. Dan, saya tidak suka angkot di Bogor, apalagi Metro Mini di Jakarta (mungkin semua orang tahu alasannya).

Namun, saya punya satu kebiasaan saat mengendarai motor kala hujan, selalu membuka kaca helm yang saya pakai. Dan, selalu menutupnya saat hari cerah. Saat kaca helm dibuka itulah saya menyiapkan diri saya untuk menangis. Dan, sudah dapat dipastikan saya memohon hujan datang ketika saya sedih. Untunglah saya menghabiskan waktu selama empat tahun di Bogor, Kota Hujan. Dapat dipastikan itu tidak sulit (bukan berarti saya selalu menangis setiap hari). Memang kebiasaan yang tidak biasa, tapi itu cara saya. Perempuan biasa, sama seperti yang lain. Anda bisa temukan cara anda sendiri. Bagi saya, perempuan menangis bukan karena ia lemah, tapi ia hanya butuh waktu untuk menghimpun lebih banyak energi bagi kekuatan hatinya. Lalu bagaimana dengan lelaki?

***

“Lelaki jangan menangis, itu hanya untuk Perempuan!”

Baiklah untuk yang satu ini lagi-lagi saya beropini. Jika anda seorang perempuan, dan akan/telah melahirkan seorang anak laki-laki di dunia ini, saya sarankan tidak mengucapkan hal tersebut kepada anak anda. Menangis itu manusiawi dan hak asasi. Kembali ke teori (quote) awal, tanpa ungkapan emosi itu kita hanyalah robot. Saya tidak mengatakan ‘Jangan’ hanya ‘Sebaiknya’, karena pada dasarnya secara biologis kaum laki-laki bisa mengkamuflase tangisan mereka sendiri. Brizendine juga mengungkapkan hormon testosteron yang ada dalam tubuh mereka akan ‘mengerem’ tangisan dengan sendirinya. Dan, umumnya karena stigma sosial dalam masyarakat sudah terbentuk ‘lelaki jangan menangis’ dengan sendirinya mereka akan mengalihkan diri atau bertaktik dengan mengerutkan wajah mereka. Jadi, lebih baik tidak terucap.

***

“Heaven knows we need never be ashamed of our tears, for they are rain upon the blinding dust of earth, overlying our hard hearts. I was better after I had cried, than before–more sorry, more aware of my own ingratitude, more gentle.” ― Charles DickensGreat Expectations

Sekitar delapan tahun yang lalu, seorang kawan lama, anak laki-laki berusia hampir 15 tahun, menangis di rumahnya, di hadapan saya dan seorang sahabat. Dengan posisi telungkup, ia menangis sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Ia menangis karena harus berpisah dengan sahabatnya yang melanjutkan sekolah di Bandung. Saat itu saya benar-benar merasa kikuk. Kami datang memang ingin menghibur, tapi ternyata dua orang yang datang dengan niat mulia itu malah ikut menangis. Tidak bisa memperbaiki keadaan, kami hanya mengeluarkan helaian tissue satu per satu. Hingga ibunya datang memasuki ruangan itu, “Eh, naha (kenapa) jagoan ibu nangis? Sudah- sudah, nanti kita susul dia ya.” Kata ibunya sambil memeluk.

Itu bukan pertama kalinya saya melihat ia sedih, atau kecewa hingga matanya berkaca-kaca. Bukan juga terakhir kalinya melihat ia menangis. Saya tidak pernah menganggap ia cengeng. Bahkan, saya salut dengan keberaniannya mengungkapkan emosi, kemampuan untuk menghargai dan memberikan ruang untuk dirinya sendiri. To me, it looks gentle. Dan, untuk ibunya, manusiawi dan solutif. Someday, I’ll be proud if I could learn more from a mother like her.

***

Menangis sebagai “Self Healing”

Jangan malu menangis. Menangis itu penyembuhan diri atau yang biasa dikenal dengan istilah self healing. Jika anda stres, menangislah. Niscaya beban psikis yang anda alami akan mereda, dan anda akan merasa lebih baik. Mengapa? Karena saat anda menangis, tubuh akan mengeluarkan hormon Endorphin dan Leucine-Enkaphaline yang efeknya mirip morphin. Hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis dan hipotalamus di dasar tulang tengkorak ini akan bereaksi dan memunculkan rasa gembira, membunuh rasa sakit (natural pain killer), meredakan perasaan sedih, stres, depresi, cemas, dan sebagainya.

Banyak yang menganggap bahwa kedua hormon itulah yang menjadi penyebab stres, sehingga saat dikeluarkan dari tubuh anda merasa lebih baik. Namun, menurut sumber yang saya baca, sebetulnya pengeluaran hormon tersebut merupakan respon terhadap rasa sakit, baik fisik maupun psikis, yang kita terima. Jadi, fungsinya meredakan bukan sebagai racun penyebabnya.

Hormon itu terus diproduksi tubuh dan (justru) apabila anda menahan diri untuk menangis efeknya akan berbalik karena hormon tidak dikeluarkan. Stres yang anda rasakan akan semakin memburuk dan akan berdampak pada kesehatan fisik anda, seperti gangguan jantung dan hipertensi.

Menangis dapat mereduksi kadar mangan dalam tubuh hingga kembali normal. Tingginya kadar mangan dalam tubuh dapat memicu emosi mejadi labil, kekhawatiran berlebihan, dan perasaan yang lebih sensitif. Air mata yang keluar mengandung 24 persen protein albumin yang berfungsi membawa racun keluar dari tubuh. Jadi, tidak ada salahnya anda melepaskan tangis jika diperlukan.

Menangis menenangkan, tapi tidak menyelesaikan masalah.

Setiap orang rata-rata menghabiskan waktu untuk menangis selama enam menit (Fit Sugar dan C-Health.com). Saya rasa itu cukup. Jika anda merasa kurang, silahkan sesuaikan dengan kebutuhan, tapi jangan terlalu lama. Meskipun menangis dapat melegakan perasaan, satu hal yang sudah semestinya disadari adalah ‘menangis tidak menyelesaikan masalah’. Ada hal lain yang harus anda lakukan setelahnya. Seperti yang telah saya sebutkan di atas, menangis menjadi waktu anda mengumpulkan energi baru, menata kembali ruang di hati anda, dan merasakan sedikit efek ‘morphin’ yang mengalir dalam tubuh anda. Tapi, anda harus tetap memutuskan sesuatu. Apa yang  harus anda lakukan setelah tangisan usai.

Dalam halaman ‘Psycology Today’ disebutkan banyak penelitian yang menyebutkan menangis dapat memberikan manfaat psikologis. Sebanyak 70 persen responden dalam penelitian tersebut menyampaikan dapat melepaskan ketegangan dan merasa lega setelah menangis. Namun, dari 3.000 laporan yang dikaji tidak selamanya seperti itu. Tidak semua orang dapat merasa lebih nyaman setelah menangis. Karena pendekatan psikis yang harus dilakukan kepada setiap orang belum tentu sama. Selain itu, dukungan moril dan sosial dari orang-orang terdekat juga mempengaruhi kondisi psikis seseorang. Hal ini kembali lagi pada solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi individu tersebut. Masalah yang tidak terselesaikan justru akan menayangkan episode tangisan-tangisan baru berikutnya. Kepedulian dan keterbukaan terhadap orang-orang terdekat menjadi penting untuk mendapatkan dukungan dan mendapatkan penyelesaian masalah yang sebenarnya.

***

“Crying is all right in its own way while it lasts. But you have to stop sooner or later, and then you still have to decide what to do.” ― C.S. Lewis

Saya teringat suatu moment dimana saya mendapatkan rasa sakit secara fisik maupun psikis. Saat itu saya sedang menyelesaikan tugas akhir (skripsi) program studi S1. Lokasi penelitian saya di Penjaringan, Jakarta Utara, kawasan paling padat penduduk miskin dan rawan kriminalitas di Jakarta. Saat itu saya merasakan beban mental yang luar biasa, karena saya harus melakukan survei sendirian dan mendapatkan beberapa kendala yang dapat mengancam keselamatan saya. Selain itu, saya sempat mengalami kecelakaan ringan, dimana sebuah palang besi berdiameter 12 sentimeter mendarat tepat di atas kepala saya, dan berhasil membuat saya tidak beraktivitas setidaknya tiga hari. Sedih, pasti. Sakit, jangan ditanya lagi. Menangis, bukan sesuatu yang bisa saya hindari. Trauma, sejujurnya, YA hingga saat ini.

Tapi saya sadar itu harus tetap dijalani, terlebih ketika melihat dan mendengar ibu saya mengucap “Mama nggak bisa lihat anak susah gini,” sambil mengelus tubuh saya yang masih terbaring di atas ranjang sambil menitikan air mata. Saat itu saya berpikir ‘STOP di sini’, saya sudah menyebabkan orang lain ikut terluka dan sadar belas kasihan itu akan berakhir pada ‘pelemahan’ jiwa saya sendiri. Semenjak hari itu, dan setelah keadaan fisik membaik (setidaknya sudah bisa berjalan tegap dan lurus), saya melanjutkan penelitian saya. It wasn’t over. I won’t give up on it. Dan, Alhamdulillah, dengan bimbingan dari thesis supervisor saya, Pini Wijayanti, kerja keras itu sudah terbayar dengan terpilihnya penelitian ini sebagai 30 penelitian terbaik di European Scientific Seminar for Indonesian Student 2012 awal Juni lalu di Belanda.

***

Layaknya kebanyakan obat, menangis juga berefek samping.

Durasi menangis yang terlalu lama dapat menyebabkan sakit kepala, mata bengkak, dan mulut kering. Karena selama menangis dengan sadar anda telah mengeluarkan banyak cairan yang menyebabkan dehidrasi. Dan, ini digejalai oleh sakit kepala yang anda rasakan saat atau setelah menangis. Jika tingkat dehidrasi ini lebih parah maka mulut anda akan terasa sangat kering. Sangat dianjurkan meminum banyak air putih setelah anda menangis. Ini juga akan membuat anda sedikit rileks. Bagi anda yang mengidap sinusitis efeknya akan lebih buruk, selain lendir yang terus membanjiri hidung anda, sakit kepala dan tulang wajah di antara mata dan hidung juga akan terasa nyeri. Oleh sebab itu, janganlah menangis secara berlebihan. Seperti obat, jika terlalu banyak anda bisa overdosis.

Dikutip dari berbagai sumber.

Further Reading: Rottenberg, J., Bylsma, L. M., & Vingerhoets, A. J.J.M. (2008). Is Crying Beneficial? Current Directions in Psychological Science17, 400-404.