Rengginang

Terlempar satu topik biasa di ruang keluarga yang remang-remang. Nenek yang setengah terkantuk-kantuk memaparkan kisah sawah dan ladangnya yang kini terhimpit tembok dan beton. Sawah dan bukit warisan almarhum suaminya kini berada di antara komplek perumahan yang mulai didirikan sejak kurang lebih 5 tahun lalu.

“Sudah ada yang nawar,” katanya.

Developer perumahan sudah ada yang datang dan menawarkan sejumlah uang untuk membeli lahan milik nenek. Belakangan, lahan itu memang sudah susah air, hanya mengandalkan hujan untuk bisa menanam padi. Aliran air dari saluran irigasi lebih banyak kering ketimbang ada airnya. Mungkin curah hujan di Gunung Galunggung sudah tak setinggi dulu.

Bukit digunakan untuk usaha kebun sengon anaknya. Kalau yang ini dulu sempat ditawar Balai Benih Ikan Kabupaten Tasikmalaya. Meskipun tidak dimakamkan di sana, semasih hidup, kakek tidak mau melepasnya. Ada makam keturunan dan menantunya di sana. Dulu, kakek pernah bercerita pada ibu, bukit kecil itu ia dedikasikan untuk keluarga dan keturunannya. Untuk suatu hari dimakamkan di sana. Menurutnya, Tidak perlu bayar tanah untuk pemakaman. Tidak perlu diperpanjang ketika masa kontrak habis. Dan, jika suatu hari lahan pemakaman semakin terpinggirkan layaknya sawah. Keturunannya masih punya tempat peristirahatan gratis. Itu yang paling penting, gratis.

Balik lagi ke sawah, developer datang dengan menawarkan uang Rp 90 juta untuk lahan berukuran 350 bata (satuan ukur yang familiar di tengah penduduk Tasikmalaya, 1 bata = 14 meter persegi) atau setara dengan 4.900 meter persegi. Artinya, lahan dihargai Rp 18.367,35 per meter persegi. Kalau dilihat Rp 90 jutanya memang cukup besar. Tapi, apa benar berhenti sampai di situ?

Kalau ditabung di bank konvensional yang bunganya 4% per tahun, nenek hanya dapat Rp 3.6 juta untuk hidup selama satu tahun. Sama halnya dengan bunga deposito 1% per 3 bulan. Tapi, nenek yang hidup dan menghidupi orang dari sawah itu punya pemikiran lain. Selama ada sawah itu, nenek tidak perlu membeli beras untuk konsumsi setahun. Bahkan, beras-beras yang dijual bisa menghidupinya ketimbang riba bank 4% setahun. Dan, yang paling penting adalah lapangan kerja untuk petani penggarap. Nenek yang tidak ‘makan sekolahan’ saja bisa memikirkan hajat hidup orang-orang di kampungnya. Beda dengan sebagian orang muda yang sekolah setinggi-tingginya, bahkan ada yang gelarnya lebih panjang dari nama aslinya.

Yang muda, yang instan. Duit.

“Nanti mau bikin ini saja susah,” kata nenek sambil menggoyang-goyangkan kaleng isi rengginang. Kerupuk khas Jawa Barat yang dibuat dari beras. Memang, akan terasa beda sekali kalau datang ke rumah nenek tanpa ada peuyeum dan rengginang di atas meja. Maklum, sejak aku lahir dan dikenalkan dengan rumah nenek di Tasik, hampir tidak pernah kujumpai meja tanpa dua makanan tersebut.

Mungkin itu semacam perumpamaan sederhana dari nenek. Memudahkan alih fungsi lahan sawah semakin menjadi ancaman hilangnya tradisi, lapangan kerja, dan yang paling penting hilangnya beras dalam negeri ‘perlahan-lahan’. Tidak menjadi masalah besar jika rakyat Indonesia, terutama si pemakan nasi, sudah bisa mensubstitusi sumber karbohidratnya dengan jagung, ubi, singkong, dan/atau sumber lainnya. Tapi, nyatanya belum.