Tepat pukul enam petang, saya turun dari angkot Baranangsiang-Laladon (03) di depan Perumahan Dosen IPB Sindangbarang. Saya tidak sendirian, ada Rini, teman satu kost. Kami mampir di salah satu gerobak pedagang kaki lima, martabak telur. Rini memesan martabak ukuran kecil, Rp 10.000 harganya. Ukurannya kurang lebih sekitar 15 x 10 cm.

Sebut saja Rahman (bukan nama sebenarnya, saya lupa tanya), si penjual martabak. Dia mengambil sedikit adonan kulit martabak, dikepalnya adonan itu, kira-kira berdiameter 3 cm. Dipipihkan. Diayun-lemparkan ke talenan alumuniumnya. Hingga melebar dan tipis sekali. Sekarang diameternya 40 cm.

Saya punya kebiasaan, bertanya, dan sedikit ingin tahu. Meskipun kadang tidak penting. Dan percakapan ini, berawal dari kebiasaan saya itu (entah ini baik atau buruk).

“Mas, belajar yang tadi itu (menipiskan adonan) berapa lama?” tanya saya.

“Enam bulan Mbak,” jawabnya.

“WOW! beginian nggak instant juga rupanya” respon spontan saya.

“Dulu ikut orang dulu? jadi asisten gitu?” lanjut saya.

“Iya, ikut Bapak.” Jawabnya.

“Sejak kapan belajarnya?” Rini ikut membredel Rahman dengan pertanyaan.

“Sejak lulus SMP Mbak, segitu lulus ikut Bapak jualan.” Jawabnya lagi.

“Sudah berapa lama jualan?” sejujurnya ini pertanyaan saya untuk mengestimasi usia Rahman (hehehehe…)

“Kira-kira sepuluh tahun lebih sedikit lah Mbak.” Jawabnya sambil menyirami minyak panas ke adonan martabak yang sudah ada di wajan.

Seketika, Rahman yang tampil kasual dengan jeans dan t-shirt dominan putih polos dengan lengan berwarna merah, sambil membenarkan posisi jam tangan dan gelang kayu hitamnya menceritakan sepenggal kisah hidupnya.

Setamat SMP ia pindah ke Bogor bersama ayahnya. Niatnya lanjut sekolah, sambil membantu ayahnya berjualan. Tapi, keasyikan membantu ayah berjualan, membuatnya dropped out dari sekolah. Iya mengaku, memang menikmati profesinya sebagai pedagang. Apalagi ini memang sudah usaha keluarga secara turun-temurun.

“Keluarga besar hidup dari martabak, Mbak. Martabak ini sudah sejak zaman kakek saya.” Rahman mengisahkan.

Rahman sudah menjadi generasi ketiga yang menjalani usaha ini. Kakek, ayah, dan paman-pamannya juga menggeluti bidang yang sama. Keluarganya yang berprofesi sebagai penjual martabak sudah tersebar dimana-mana. Ada yang di Tangerang, tapi kebanyakan ada di Bogor.

“Ada yang di Pagelaran, Jembatan Merah, Pasir Kuda, sama saya di sini (kaki lima lampu merah Sindangbarang)” Jelasnya.

Ia mengaku sebagai generasi terakhir di keluarganya yang menggeluti usaha martabak ini. Berbeda dengannya, saudara dan sepupu-sepupunya memilih menjalani pendidikan formal dan bekerja sesuai latar belakang pendidikan mereka.

“Kebanyakan kuliah, ada yang di Akper (Akademi Keperawatan), saya aja ini yang dagang.” Katanya.

“Ya, kalau sudah jiwanya dagang lanjut aja mas. Mungkin sudah dari sananya begitu.” Kata Rini.

“Yang penting berkah, mas” saya memotong.

“Iya, Mbak. Sudah dari sananya jiwanya begitu. Susah diatur. Tidak suka diatur-atur sama orang lain.” Jawabnya tegas sambil tersenyum dan memberikan sebungkus martabak telur kepada Rini.

Sekian, kisah dari pertanyaan iseng-iseng saya dengan pedagang kaki lima.
Baru sadar, mungkin kalau dari dulu pertanyaan saya kepada pedagang kaki lima macam ini ditulis, sudah jadi berapa bundel ya.
hehehehe… meskipun saya selalu bermasalah dengan ENDING!

Baiklah, semoga anda, sebagai pembaca, bisa menyimpulkannya sendiri.

Bogor, 23 Juni 2013

Dina Berina