Kailan
Kailan

Hai! Sudah lama sekali rasanya saya tidak memperbarui isi blog ini. Maklum ya, dalam dua tahun terakhir beberapa hobby baru muncul dan cukup membuat saya lupa untuk berbagi. Dari sekian kegiatan yang saya lakukan, bertani di rumah adalah yang paling menyita perhatian saya. Nah, kali ini saya akan berbagi sedikit cerita mengenai hobby saya yang relatif baru ini.

Cabai Besar Landung
Cabai Besar Landung

Awal tahun 2014, saya mulai mengenal istilah urban farmer (petani kota). Ehm, saya lebih suka istilah petani rumahan sih. Kebetulan saya suka beli benih di petanirumahan.com, bukan mau promosiin toko orang, tapi sekedar mengapresiasi keberadaan toko online ini yang telah membantu saya dengan menyediakan benih dengan kuantitas yang pas untuk berkebun di rumah, dan yang paling menarik adalah ‘harga’ benih tersebut Rp 1000,- saja.

Pakchoy
Pakchoy

Selain benih, saya juga mulai belajar mengenai pupuk organik/anorganik, hormon tanaman, dan hama. Ya, hama. Mahluk ini yang paling menyita perhatian, terutama kutu daun! Maklum, saya baru bisa menanam beberapa jenis cabai. Dan, sudah hampir pasti kutu daun merajalela kalau tidak ada penanganan khusus. Banyak orang yang sudah dibuat patah hati oleh si kutu daun ini. Kenapa saya bilang patah hati? Begini, belakangan urban farming memang jadi trend, banyak sekali orang dan komunitas yang sekarang aktif menghijaukan lingkungan dengan tanaman produktif seperti buah dan sayuran. Namun, semangat itu bisa luntur seluntur-lunturnya saat tanaman yang diharapkan ‘menghasilkan’ malah jadi gagal panen. Saya pun pernah mengalaminya. Sampai saya mencoba berbagai cara agar si kutu minggat!

Cabai 7Pod Trinidad
Cabai 7Pod Trinidad

Setelah berkeliling dari website dan blog untuk mencari solusi menangani kutu, saya belum berhasil menemukan cara yang praktis dan mungkin gak perlu rutin-rutin amat.

Sampai akhirnya, saya memanfaatkan garam inggris/garam epsom (MgSO4) food grade untuk merevitalisasi dedaunan yang mulai keriting akibat virus yang dibawa si kutu. Bunga pun layu dan rontok (gimana bisa berbuah?). Lalu, setiap akhir pekan saya bersihkan tiap lembar daun cabai yang saya tanam (agak kerajinan sih) sambil mengajak tanamannya ngobrol. Saya suka bilang sama mereka “sehat sehat ya, aku nungguin buahmu loh, cantik”. Mungkin terdengar ‘lebay’ atau agak ‘gila’. Tapi, modal yakin saja deh kalau itu bakal mempengaruhi proses pemulihan tanamannya.

Cabai 7Pod
Cabai 7Pod

Akhirnya saya beli Pest and Insect Repeller dan meletakannya di colokan listrik yang terdekat dengan kebun. Menurut informasih sih, jangkauannya bisa sampai dengan 90 meter persegi. Dalam 3-4 hari memang belum terlihat efeknya, jadi saya masih harus membersihkan kutu-kutu di daunnya.

Tomat Cherry
Tomat Cherry

Tapi setelah kurang lebih 10 hari, kutunya gak datang lagi! It works so well! Eits, jika anda mau pakai ini juga pastikan juga repellernya mengeluarkan gelombang yang mengganggu pendengaran kutunya, kalau tidak salah sekitar 40-45 ribu Hz.

Sekarang bunga cabainya sudah mulai banyak. Bahkan, beberapa tanaman sudah kelihatan buahnya.

Pesan saya buat anda yang baru memulai, jangan menyerah ya! Justru dengan merasakan susahnya bertani mungkin kita bisa lebih menghargai para petani yang sudah menyediakan bahan makanan kita. Selamat bertani!